other homepage

Tuesday, January 22, 2013

Bunga Clover untuk "Bunga" part 6


Saat Hana sedang tak sadarkan diri, Rama, Rika, dan Taufik menjenguk Hana. Selama ini hanya Jun yang absen menjenguk Hana. Pasti ada kejanggalan yang terjadi, pikir mereka. Mereka bergantian berjaga malam. Sekarang saat Rama bergiliran menjaga Hana. Ia sangat menyayangi Hana, meski Hana belum menyadari hal itu.
            “Hana. Cepat sembuh ya..”
            Pintu ruang inap Hana terbuka. Tiba-tiba sesosok pemuda masuk dengan membawa buket bunga.
            “Jun? Kok tumben bisa dateng?”
            “Iya, lagi ngga ada kerjaan aja. Dan gue nyempetin dateng ke sini.” ujar Jun dengan santai, “Gimana keadaannya sekarang?”
            “Sudah agak baikan.”
            Jun menaruh buket bunganya ke lemari tepat di samping Hana. Lalu ia memegang tangan Hana yang lembut. Pertama kalinya ia memegang tangan mungil itu. Jun merasa bersalah. Ia yang membuat Hana seperti yang sekarang ini. Jun lalu mengecup punggung tangan itu dengan lembut dan sangat lama. Dengan lembut tangan kiri Jun mengusap dahi Hana. Wajah Jun mendekat ke arah wajah Hana hanya sekedar untuk mengecup keningnya. Tak lama kemudian terlihat pergerakan dari tangan Hana.
            “Jun.”
            Itu adalah kata pertama yang Hana ucapkan setelah pikirannya terbangun dari masa krisis. Jun memegang tangan Hana dengan lebih erat. Ia dan Rama tak percaya dengan apa yang terucap dari mulut Hana sendiri.
            “Apakah kau Jun?”
            Perlahan mata Hana membuka. Jun tersenyum tipis. Senyuman yang sangat dikagumi Hana kini nampak jelas terlihat. Hana mulai sadar. Ia pun terbangun dan duduk di atas tempat tidur.
            “Apa yang terjadi?” tanya Hana seraya menatap Jun dan Rama secara bergantian.
            Dengan merasa bersalah Jun menceritakan semuanya. Termasuk unsur ketidaksengajaan perasaan dirirnya, Rama, dan Hana. Hana memaafkan Jun dengan mudah. Karena jika ia berada di posisi Jun, ia pasti akan memilih persahabatan daripada perasaannya sendiri. Rama pun paham perasaan keduanya. Ia pun memilih untuk mundur dan melepaskan Hana ke tangan Jun. Rama meninggalkan ruangan itu.
            Sempat terjadi keheningan di ruangan. Keduanya mengetahui perasaan satu sama lain. Hal ini membuat suasana berubah menjadi canggung. Hana mencari-cari bahan omongan untuk obrolannya dengan Jun. Tapi ia tidak menemukan topik apa-apa. Akhirnya Jun yang angkat bicara.
            “Mmm… Mengenai kondisi kardus itu, aku mulai merapikannya.”
            “Ah, sudah lama aku tak melihat isinya.”
            “Tapi aku tidak bisa memperbaiki Bunga Clover itu,” terang Jun.
            “Maaf, ya. Pasti itu gara-gara aku, ya?”
            “Sudahlah. Itu kan sudah berlalu. Hmm.. Bagaimana kalau kita mencari bunga itu lagi?” usul Jun.
            “Cari? Dimana?”
            “Pokoknya kau ikut aku aja deh. Jadi besok pagi kita keluar sebentar.”
            “Oke.”
           
            Keesokan paginya, Masih di pagi hari buta ia meminta kepada resepsionis untuk membawa Hana jalan-jalan keluar. Setelah mengisi surat izin membawa pasien, Jun menggendong Hana.
            “Kamu aneh deh, Jun. Nyulik orang dengan jasa gendongan begini.” sahut Hana di telinga Jun.
            Jun hanya tertawa.
            “Dasar ratu gembel. Sabar sedikit dong. Kan aku juga mau ngasih kejutan gitu.”
            “Wuuu… Kamu tuh ya ngga jago dalam hal beginian, ya kan?” ditonjoknya pipi Jun dengan lembut.
            “Yah ratu gembel ga cuma minus di penampilan, hatinya juga ikutan minus. Sabar dikit kek. Ntar cepet tua lho, ntar keburu lengser lho dari predikat ratu,” ledek Jun.
            “Maksudnya apa, nih?” kali ini Hana mencubit pipi Jun.
            Aura di antara mereka kembali seperti biasa. Bahkan lebih berwarna dibandingkan sebelumnya. Hana pun tidur sejenak di punggung pemuda itu. Saat tertidur, Hana bermimpi, ia berada di taman yang penuh dengan bunga. Sejauh mata memandang hanya bunga, bunga dan bunga. Sampai akhirnya ia melihat sesosok pangeran dengan wajah yang ditutupi oleh topeng. Mereka saling mendekat. Hana menimbang-nimbang untuk membuka topeng itu. Lalu secercak cahaya keluar dari dalamnya.
            “Udah sampe, nih. Coba lihat sekelilingnya.”
            Hana menangkap suara itu, dan mimpinya pupus. Ia melihat di ufuk timur ada matahari yang diam-diam menampakkan bentuknya. Sinarnya begitu lembut menyentuh wajah sang ratu. Lalu di bawah telapak kaki Jun terhampar tanaman semanggi yang begitu hijau.
            “Hana, ini adalah tempat pertama kali kita bertemu. Waktu itu aku nemuin kamu lagi bermain di sini. Padahal keluarga kamu sedang mencari kamu kemana-mana. Tapi hanya aku yang tau tempat persembunyian kamu ini, karena ini tempat persembunyian aku juga.” ujar Jun dengan begitu jelas.
            “Dan kamu malah mengajakku bermain di sini. Kamu terlihat sangat senang ketika menemukan daun semanggi berkelopak 4. Bunga Clover. Aku orang pertama yang kau perlihatkan. Lalu kita berjanji untuk menyimpannya.” tutur Jun dengan jelas.
            “Nah, sekarang sebagai gantinya aku mencarikannya untukmu,” Jun menurunkan Hana dari gendongannya dan mencari Bunga Clover itu. Hanya dalam waktu sebentar, ia memetik satu daun semanggi, dan memberikannya ke telapak tangan gadis yang ia sangat sayangi itu.
            “Ternyata dalam bahasa Jepang, nama kamu dapat diartikan sebagai bunga, lho. Jadi, ini Bunga Clover untuk Bunga.”
            Muka Hana memerah, “makasih Jun.” ditatapnya Jun dengan lekat. Jun menatapnya kembali. Kali ini ia sudah menemukan di balik tatapan itu. Ia sudah mendapatkannya. Demikian pula dengan Jun. Wajah Jun mendekat ke arah kening Hana. Dikecupnya dahi Hana dengan lembut. Dengan memandikan cahaya matahari pagi, tampaklah siluet mereka. Dan juga telah mempertemukan kembali kedua insan dan juga kenangan yang tak terkubur.

No comments:

Post a Comment