“Eh,
kita karaokean gimana? Sampe larut lah... mumpung besok kita libur, nih. Setuju?”
“Boleh
boleh, tuh. Yuk?” Hana mengiyakan sambil mengajukan konfirmasi ke Jun.
“Challenge accepted!” jawab Jun dengan
mantab.
Malam
itu mereka merasakan betapa hebatnya dunia ciptaan Tuhan. Sebenarnya ada
sesuatu yang ingin Jun tunjukkan ke Hana. Tapi hal itu ia urungkan sampai ia
mendapatkan bukti yang lebih kuat lagi. Baginya, malam ini sudah cukup
membuatnya mendebarkan, berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Dan ia akan
selalu ingat kejadian malam ini, dan juga pandangan ia lihat pada malam ini.
Cek
kesehatan setiap minggu siang adalah jadwal rutin Hana sekarang. Menjelang
memasuki universitas ia rajin pergi ke puskesmas terdekat untuk sekedar
memeriksa kesehatannya. Terakhir kali ia mendapatkan kabar dari dokter
pribadinya bahwa ia menderita penyakit jantung koroner. Sedikit shock memang
mendengarkannya, tapi ia yakin ia bisa mengatasinya. Perjalanan menuju
puskesmas tak begitu jauh. Yakni dengan menempuh kurang lebih 150 meter Hana
sudah bisa melakukan pemeriksaan. Sesampainya, Hana mengisi daftar tamu di
resepsionis dan melesat ke ruangan dokter pribadinya itu.
“Bagaimana
keadaannya sekarang, dok?” Tanya Hana dengan hati-hati.
“Sudah
cukup membaik dibandingkan 2 minggu sebelumnya. Tapi perlu diingat ya Hana, kamu
sekarang sudah menjadi mahasiswi, dan kamu harus mengurangi kegiatan-kegiatan
khususnya kegiatan di malam hari. Dan jangan lupa sering minum vitamin sehari
sekali serta biasakan berolahraga pada pagi hari.”
Hana
pun pamit dari hadapan dokter. Ia menyadari benar kondisi fisiknya sekarang. Ia
sudah lemah. Tak sekuat dahulu. Rahasia mengenai penyakitnya hanya diketahui
oleh Rika. Bahkan ia tidak menceritakannya kepada keluarganya sendiri. Cukup
Rika saja yang tahu. Ia pun pergi ke pasar guna membeli jeruk, wortel, dan
vitamin-vitamin sesuai anjuran dokternya.
Matahari
masuk melalui sela-sela gordyn kamar
Taufik. Kamarnya cukup berantakan. Jun-lah yang bangun pertama kali dan mulai
membenahi sisa-sisa pesta kemarin malam. Kebangunannya disusul oleh Taufik.
Lalu kemudian Rama.
“Eh,
ternyata udah ada yang lebih rajin daripada gue ya. Sebentar gue ambil serokan
sama sapu,” Taufik berjalan keluar kamar.
Rama
membantu Jun membuang sampah-sampah yang berserakan.
“Lu
tertarik ya sama Hana?” tanya Rama pada akhirnya. Hal ini membuat Jun
kehilangan kata-kata.
“Maksudnya?”
Jun membalikkan pertanyaan.
“Udah
gue tau kok lu lagi suka kan sama dia? Ngaku aja deh.” kata Rama dengan nada
sedikit serius.
Jun
tidak langsung menjawabnya. Ia menimbang-nimbang maksud pertanyaan itu lalu
mulai menjawab.
“Engga,”
jawab Jun pada akhirnya. Mendengar jawaban Jun, Rama menatap Jun lekat-lekat.
“Asal
lu tau aja Jun, gue lagi jatuh cinta sama…….sama Hana,” Rama tak kalah
berargumen.
Jun
tercengang, ”jadi lu suka sama dia?”
“Iya,”
jawab Rama dengan yakin.
“Tapi
gue ga suka ketika melihat lu deket-deket sama dia,” lanjut Rama.
Jun
menundukkan kepala. Menyesal atas jawabannya. Kini ia tak tahu harus berbuat
apa. Ia jatuh cinta kepada Hana, tapi ia juga tidak tega melihat kawannya terluka
karenanya. Posisinya sedang terjepit. Ia bingung antara ingin memiliki orang ia
cintai atau melihat sahabatnya bergandengan dengan orang yang dicintainya.
Kalau saja ada keajaiban, ia tak ingin berada di sini. Lebih baik ia meninggal
daripada harus memilih pilihan yang tak bisa ia pilih.
“Jun?
Are you okay?” tanya Rama.
“Yeah, I’m fine. Hanya lupa sesuatu aja.
Tadi lu bilang lu suka sama dia, ya? Wah, gue dukung banget deh.”
“Lu
yakin gue sama dia bakalan cocok?”
“Sure! Yakin seratus persen deh!”
“Oke,
do’ain gue ya.”
“Yup!”
Kata-kata
itu keluar dengan nada yang berat. Kata-kata yang menyebabkan terdapat lubang
di hatinya. Ia merasa paling bodoh dan bersalah kepada dirinya sendiri. Namun,
ia sudah terlanjur menyetujui hubungan Rama dengan Hana. Ia tak bisa menarik
kembali ucapannya maupun orang yang dicintainya. Tuhan, jika ada satu kekuatan,
mungkin dalam sekejap perasaan itu akan ia hapus. Tapi, ternyata Tuhan
berkehendak lain.
Keputusannya
itu malah membuat Jun semakin sakit hati. Mereka nampak akrab dan dijuluki
Romeo-Juliet di kampus. Jun pun sering menghindar dari hadapan mereka. Meski ia
tahu ia salah, tapi ia pikir itulah jalan satu-satunya agar membuat ia akan
lupa terhadap perasaanya. But it is hard
to make it fades away. Dan dengan cara menghindarlah Jun akhirnya perlahan
melepas segenap rasa cinta itu.
No comments:
Post a Comment