other homepage

Tuesday, January 22, 2013

Bunga Clover untuk "Bunga" part 4


“Eh, kita karaokean gimana? Sampe larut lah... mumpung besok kita libur, nih. Setuju?”

“Boleh boleh, tuh. Yuk?” Hana mengiyakan sambil mengajukan konfirmasi ke Jun.

Challenge accepted!” jawab Jun dengan mantab.

Malam itu mereka merasakan betapa hebatnya dunia ciptaan Tuhan. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin Jun tunjukkan ke Hana. Tapi hal itu ia urungkan sampai ia mendapatkan bukti yang lebih kuat lagi. Baginya, malam ini sudah cukup membuatnya mendebarkan, berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Dan ia akan selalu ingat kejadian malam ini, dan juga pandangan ia lihat pada malam ini.



Cek kesehatan setiap minggu siang adalah jadwal rutin Hana sekarang. Menjelang memasuki universitas ia rajin pergi ke puskesmas terdekat untuk sekedar memeriksa kesehatannya. Terakhir kali ia mendapatkan kabar dari dokter pribadinya bahwa ia menderita penyakit jantung koroner. Sedikit shock memang mendengarkannya, tapi ia yakin ia bisa mengatasinya. Perjalanan menuju puskesmas tak begitu jauh. Yakni dengan menempuh kurang lebih 150 meter Hana sudah bisa melakukan pemeriksaan. Sesampainya, Hana mengisi daftar tamu di resepsionis dan melesat ke ruangan dokter pribadinya itu.

“Bagaimana keadaannya sekarang, dok?” Tanya Hana dengan hati-hati.

“Sudah cukup membaik dibandingkan 2 minggu sebelumnya. Tapi perlu diingat ya Hana, kamu sekarang sudah menjadi mahasiswi, dan kamu harus mengurangi kegiatan-kegiatan khususnya kegiatan di malam hari. Dan jangan lupa sering minum vitamin sehari sekali serta biasakan berolahraga pada pagi hari.”

Hana pun pamit dari hadapan dokter. Ia menyadari benar kondisi fisiknya sekarang. Ia sudah lemah. Tak sekuat dahulu. Rahasia mengenai penyakitnya hanya diketahui oleh Rika. Bahkan ia tidak menceritakannya kepada keluarganya sendiri. Cukup Rika saja yang tahu. Ia pun pergi ke pasar guna membeli jeruk, wortel, dan vitamin-vitamin sesuai anjuran dokternya.



Matahari masuk melalui sela-sela gordyn kamar Taufik. Kamarnya cukup berantakan. Jun-lah yang bangun pertama kali dan mulai membenahi sisa-sisa pesta kemarin malam. Kebangunannya disusul oleh Taufik. Lalu kemudian Rama.

“Eh, ternyata udah ada yang lebih rajin daripada gue ya. Sebentar gue ambil serokan sama sapu,” Taufik berjalan keluar kamar.

Rama membantu Jun membuang sampah-sampah yang berserakan.

“Lu tertarik ya sama Hana?” tanya Rama pada akhirnya. Hal ini membuat Jun kehilangan kata-kata.

“Maksudnya?” Jun membalikkan pertanyaan.

“Udah gue tau kok lu lagi suka kan sama dia? Ngaku aja deh.” kata Rama dengan nada sedikit serius.

Jun tidak langsung menjawabnya. Ia menimbang-nimbang maksud pertanyaan itu lalu mulai menjawab.

“Engga,” jawab Jun pada akhirnya. Mendengar jawaban Jun, Rama menatap Jun lekat-lekat.

“Asal lu tau aja Jun, gue lagi jatuh cinta sama…….sama Hana,” Rama tak kalah berargumen.

Jun tercengang, ”jadi lu suka sama dia?”

“Iya,” jawab Rama dengan yakin.

“Tapi gue ga suka ketika melihat lu deket-deket sama dia,” lanjut Rama.

Jun menundukkan kepala. Menyesal atas jawabannya. Kini ia tak tahu harus berbuat apa. Ia jatuh cinta kepada Hana, tapi ia juga tidak tega melihat kawannya terluka karenanya. Posisinya sedang terjepit. Ia bingung antara ingin memiliki orang ia cintai atau melihat sahabatnya bergandengan dengan orang yang dicintainya. Kalau saja ada keajaiban, ia tak ingin berada di sini. Lebih baik ia meninggal daripada harus memilih pilihan yang tak bisa ia pilih.

“Jun? Are you okay?” tanya Rama.

Yeah, I’m fine. Hanya lupa sesuatu aja. Tadi lu bilang lu suka sama dia, ya? Wah, gue dukung banget deh.”

“Lu yakin gue sama dia bakalan cocok?”

Sure! Yakin seratus persen deh!”

“Oke, do’ain gue ya.”

“Yup!”

Kata-kata itu keluar dengan nada yang berat. Kata-kata yang menyebabkan terdapat lubang di hatinya. Ia merasa paling bodoh dan bersalah kepada dirinya sendiri. Namun, ia sudah terlanjur menyetujui hubungan Rama dengan Hana. Ia tak bisa menarik kembali ucapannya maupun orang yang dicintainya. Tuhan, jika ada satu kekuatan, mungkin dalam sekejap perasaan itu akan ia hapus. Tapi, ternyata Tuhan berkehendak lain.

Keputusannya itu malah membuat Jun semakin sakit hati. Mereka nampak akrab dan dijuluki Romeo-Juliet di kampus. Jun pun sering menghindar dari hadapan mereka. Meski ia tahu ia salah, tapi ia pikir itulah jalan satu-satunya agar membuat ia akan lupa terhadap perasaanya. But it is hard to make it fades away. Dan dengan cara menghindarlah Jun akhirnya perlahan melepas segenap rasa cinta itu.

No comments:

Post a Comment