other homepage

Tuesday, January 22, 2013

Bunga Clover untuk "Bunga" part 2


(sementara itu saat jam istirahat dimulai)
            Jun mengambil satu porsi paket ayam bakar. Ia membutuhkan banyak tenaga hari ini. Semalaman ia tidak tidur pulas. Ini sudah hari ke 7 ia memikirkan isi dari kotak coklat itu. Sekarang ia tahu isi dari kotak usang itu. Bukan hanya sekedar kotak usang. Di dalam kotak itu hanya berisikan surat-surat usang yang tak lagi bisa dibaca, boneka-boneka usang, kertas-kertas usang, dan satu kotak besi tua. Di dalam kotak besi itu terdapat satu lembar daun semanggi berkelopak empat.
            Hingga saat ini Jun tak mengingat persis tokoh “Han”. Surat-surat dan kertas-kertas tidak bisa dijadikan petunjuk untuknya. Kalau saja ia bertemu dengan seseorang yang bernama “Han”, ia pasti menunjukkan setumpuk barang-barang kuno itu hingga dapat tersusun menjadi kardus kepadanya. Sambil memikirkannya, ia menyantap ayam bakar pesanannya. Entah apa yang akan ia lakukan nanti. Sama sekali tak ada titik terang.
Saat mengunyah ayamnya, Jun pun teringat akan sosok gadis yang ia amati tadi pagi. Nampak begitu semangat membaca artikel-artikel di madding. Gadis mungil itu terlihat periang. Rambutnya melewati bahu. Memakai baju lengan panjang dan celana jeans. Tak lama kemudian ia terlihat seperti sedang mencari orang bak beradu acting dengan serigala pemangsa. Lalu kedua mata mereka bertemu. Mata yang sudah diperkirakan memiliki warna coklat itu menatapnya.
“Woy, bengong aja!”
Lamunan Jun pecah. Kini kenalannya duduk dihadapannya. Menyantap menu nasi goreng favoritnya.
“Ngga, kenyang apa, Pik, makan nasi goreng doang?” tanya Jun.
Jun hanya menggelengkan kepalanya sedikit, lalu melanjutkan makan.
“Rama! Gabung ke sini, yuk!” sahut Taufik kepada yang lain.
Orang yang dipanggil namanya tersebut menengok .Dia mengubah arah kakinya. Menuju ke tempat Taufik berada.
Sorry ngerepotin. Ngga apa-apa, ‘kan?”
It’s okay, guys. Udah makan aja.”
Jun berpikir sebentar. Dia yang menabrak gadis itu, katanya di dalam hati. Lalu Jun melanjutkan makannya kembali.
“Oh iya. Kenalin, Ram. Dia Jun. Dateng dari Bandung.”
“Kenalin gue Rama. Masuk fakultas sastra Rusia di sini. Lu?”
“Gue Jun. Masuk akuntansi,” jawab singkat Jun seraya menyambut tangan Rama.
“Gue rasa nanti kita bakal ngalamin kejadian keren,” sambar Taufik yang tidak nyambung. Jun dan Rama pun terheran-heran ‘imajinasi baru’ dari Taufik ini.
“Ha? Apaan sih lu , Pik? Ngga jelas.” protes Rama.
“Ngaco aja nih, Opik. Tapi gue aminin deh,” tutur Jun.
“Nah, bagus!” mata Taufik tampak berbinar-binar.
Namun bagi Jun, ia merasakan yang tak mengenakan. Pasti akan terjadi sesuatu nanti. Entah itu akan datang seseorang yang bernama Han. Entah juga ada keajaiban perkenalannya dengan Rama dan Taufik. Atau mungkin dengan gadis yang mencuri perhatiannya itu. Yang jelas Jun tak mau terlalu memikirkannya sekarang. Ia harus kembali ke kelas dan menyantap pelajaran perusahaan dagang nanti di kelas.

Di kantin sepulang mata kuliah, Rika melihat-lihat kontak yang ada di telepon genggamnya. Layarnya berhenti pada sebuah kontak nama. Ia menekan tombol call. Terdengar nada sambung. Begitu lama ia mendengarkan nada sambung itu. Dan tak lama kemudian terdengar suara yang sudah lama ia kenal.
“Hallo..” jawab si penerima telepon
“Lu dimana?”
“Gue sebentar lagi sampe kok.”
“Berapa jam kira-kira?”
“Hahaha… Sebentar doang kok. Ngga nyampe 30 menit.”
“Oh, iya deh. Cepet ya.”
“Oke sip,” jawab Hana mantab.
Setelah menutup telepon, Hana dengan sigap merapikan semua catatan-catatan tugas dari dosen. Cukup mengherankan memang. Mahasiswi yang baru masuk mata kuliah sudah diberi catatan-catatan seperti tipe-tipe gaya berbicara, point-point yang digunakan dalam menyampaikan informasi, dan lain sebagainya. Hana tetap optimis dan akan selalu optimis. Ia yakin bukan hanya ilmu yang akan ia dapatkan, tapi juga cita yang ia idam-idamkan.
Tasnya sudah siap dikenakannya. Ia keluar kelas dan mengarahkan pandangan, badannya, serta kakinya menuju kantin. Setibanya, pandangannya langsung tertuju pada temannya. Tanpa ragu, ia mulai mendekati Rika. Mukanya yang semula murung akibat catatan-catatan yang seperti pidato Adolf Hitler, berubah seketika menjadi periang.
Mendengar ada suara langkah kaki yang mendekat, Rika menoleh. Terlihat gadis sebaya tersenyum mendekat, lalu duduk di hadapannya. Kemudian Hana memulai pembicaraan.
“Udah lama?” tanyanya dengan ekstra hati-hati. Kini ia hanya bisa memelas.
“Banget. Hampir seabad kali gue di sini.” Nadanya terlihat sedikit kesal.
“Maaf. Tadi dosennya benar-benar sadis. Ngasih catatan setumpuk. Udah gitu…” belum sempat melanjutkan kata-katanya, Rika sudah menyambar duluan.
“Iya, gue paham kok. Tenang aja. Tapi lainkali kasih kabar dong. Jangan biarin gue ngitungin bulu tangan gini.”
“Hahaha… Iya kok, Rik.”
Warna di wajah Hana tiba-tiba berubah menjadi cerah. Ia pun bersumpah untuk menepati janjinya itu.
“Ngomong-ngomong ke rumah Taufik yuk? Partying,” ajak Rika.
Party buat?” tanya Hana.
“Yah.. semacam pesta kecil-kecilan gitu deh. Yang ikut juga cuman 5 orang. Buat ngerayain masuknya kita di kampus ini,” jelas Rika.
“Hmm… Boleh deh. Sekarang?”
“2 jam lagi kita berangkat.”
“Oke kalau begitu.”

No comments:

Post a Comment