(sementara
itu saat jam istirahat dimulai)
Jun mengambil satu porsi paket ayam
bakar. Ia membutuhkan banyak tenaga hari ini. Semalaman ia tidak tidur pulas.
Ini sudah hari ke 7 ia memikirkan isi dari kotak coklat itu. Sekarang ia tahu
isi dari kotak usang itu. Bukan hanya sekedar kotak usang. Di dalam kotak itu
hanya berisikan surat-surat usang yang tak lagi bisa dibaca, boneka-boneka
usang, kertas-kertas usang, dan satu kotak besi tua. Di dalam kotak besi itu
terdapat satu lembar daun semanggi berkelopak empat.
Hingga saat ini Jun tak mengingat
persis tokoh “Han”. Surat-surat dan kertas-kertas tidak bisa dijadikan petunjuk
untuknya. Kalau saja ia bertemu dengan seseorang yang bernama “Han”, ia pasti
menunjukkan setumpuk barang-barang kuno itu hingga dapat tersusun menjadi
kardus kepadanya. Sambil memikirkannya, ia menyantap ayam bakar pesanannya.
Entah apa yang akan ia lakukan nanti. Sama sekali tak ada titik terang.
Saat
mengunyah ayamnya, Jun pun teringat akan sosok gadis yang ia amati tadi pagi.
Nampak begitu semangat membaca artikel-artikel di madding. Gadis mungil itu
terlihat periang. Rambutnya melewati bahu. Memakai baju lengan panjang dan
celana jeans. Tak lama kemudian ia terlihat seperti sedang mencari orang bak
beradu acting dengan serigala pemangsa. Lalu kedua mata mereka bertemu. Mata
yang sudah diperkirakan memiliki warna coklat itu menatapnya.
“Woy,
bengong aja!”
Lamunan
Jun pecah. Kini kenalannya duduk dihadapannya. Menyantap menu nasi goreng
favoritnya.
“Ngga,
kenyang apa, Pik, makan nasi goreng doang?” tanya Jun.
Jun
hanya menggelengkan kepalanya sedikit, lalu melanjutkan makan.
“Rama!
Gabung ke sini, yuk!” sahut Taufik kepada yang lain.
Orang
yang dipanggil namanya tersebut menengok .Dia mengubah arah kakinya. Menuju ke
tempat Taufik berada.
“Sorry ngerepotin. Ngga apa-apa, ‘kan?”
“It’s okay, guys. Udah makan aja.”
Jun
berpikir sebentar. Dia yang menabrak gadis itu, katanya di dalam hati. Lalu Jun
melanjutkan makannya kembali.
“Oh
iya. Kenalin, Ram. Dia Jun. Dateng dari Bandung.”
“Kenalin
gue Rama. Masuk fakultas sastra Rusia di sini. Lu?”
“Gue
Jun. Masuk akuntansi,” jawab singkat Jun seraya menyambut tangan Rama.
“Gue
rasa nanti kita bakal ngalamin kejadian keren,” sambar Taufik yang tidak
nyambung. Jun dan Rama pun terheran-heran ‘imajinasi baru’ dari Taufik ini.
“Ha?
Apaan sih lu , Pik? Ngga jelas.”
protes Rama.
“Ngaco
aja nih, Opik. Tapi gue aminin deh,” tutur Jun.
“Nah,
bagus!” mata Taufik tampak berbinar-binar.
Namun
bagi Jun, ia merasakan yang tak mengenakan. Pasti akan terjadi sesuatu nanti.
Entah itu akan datang seseorang yang bernama Han. Entah juga ada keajaiban perkenalannya
dengan Rama dan Taufik. Atau mungkin dengan gadis yang mencuri perhatiannya
itu. Yang jelas Jun tak mau terlalu memikirkannya sekarang. Ia harus kembali ke
kelas dan menyantap pelajaran perusahaan dagang nanti di kelas.
Di
kantin sepulang mata kuliah, Rika melihat-lihat kontak yang ada di telepon
genggamnya. Layarnya berhenti pada sebuah kontak nama. Ia menekan tombol call. Terdengar nada sambung. Begitu
lama ia mendengarkan nada sambung itu. Dan tak lama kemudian terdengar suara
yang sudah lama ia kenal.
“Hallo..”
jawab si penerima telepon
“Lu
dimana?”
“Gue
sebentar lagi sampe kok.”
“Berapa
jam kira-kira?”
“Hahaha…
Sebentar doang kok. Ngga nyampe 30
menit.”
“Oh,
iya deh. Cepet ya.”
“Oke
sip,” jawab Hana mantab.
Setelah
menutup telepon, Hana dengan sigap merapikan semua catatan-catatan tugas dari
dosen. Cukup mengherankan memang. Mahasiswi yang baru masuk mata kuliah sudah
diberi catatan-catatan seperti tipe-tipe gaya berbicara, point-point yang
digunakan dalam menyampaikan informasi, dan lain sebagainya. Hana tetap optimis
dan akan selalu optimis. Ia yakin bukan hanya ilmu yang akan ia dapatkan, tapi
juga cita yang ia idam-idamkan.
Tasnya
sudah siap dikenakannya. Ia keluar kelas dan mengarahkan pandangan, badannya,
serta kakinya menuju kantin. Setibanya, pandangannya langsung tertuju pada
temannya. Tanpa ragu, ia mulai mendekati Rika. Mukanya yang semula murung
akibat catatan-catatan yang seperti pidato Adolf Hitler, berubah seketika
menjadi periang.
Mendengar
ada suara langkah kaki yang mendekat, Rika menoleh. Terlihat gadis sebaya
tersenyum mendekat, lalu duduk di hadapannya. Kemudian Hana memulai
pembicaraan.
“Udah
lama?” tanyanya dengan ekstra hati-hati. Kini ia hanya bisa memelas.
“Banget.
Hampir seabad kali gue di sini.” Nadanya terlihat sedikit kesal.
“Maaf.
Tadi dosennya benar-benar sadis. Ngasih catatan setumpuk. Udah gitu…” belum
sempat melanjutkan kata-katanya, Rika sudah menyambar duluan.
“Iya,
gue paham kok. Tenang aja. Tapi lainkali kasih kabar dong. Jangan biarin gue
ngitungin bulu tangan gini.”
“Hahaha…
Iya kok, Rik.”
Warna
di wajah Hana tiba-tiba berubah menjadi cerah. Ia pun bersumpah untuk menepati
janjinya itu.
“Ngomong-ngomong
ke rumah Taufik yuk? Partying,” ajak
Rika.
“Party buat?” tanya Hana.
“Yah..
semacam pesta kecil-kecilan gitu deh. Yang ikut juga cuman 5 orang. Buat
ngerayain masuknya kita di kampus ini,” jelas Rika.
“Hmm…
Boleh deh. Sekarang?”
“2
jam lagi kita berangkat.”
“Oke
kalau begitu.”
No comments:
Post a Comment