other homepage

Sunday, January 6, 2013

Bunga Clover untuk "Bunga" part 1


Sambil melihat-lihat sekeliling kamarnya, seorang pemuda mengecek kembali perlengkapan kuliahnya. Dengan tenang ia memindahkan kardus-kardus itu dari sudut kamarnya. Pada kotak kardus yang terakhir, ia sempat mengingat-ngingat kapan terakhir kali ia membukanya. Kotak kardus itu bertuliskan “Han’s”, tapi tak pernah ada niatan untuk mengintip ke dalamnya. Tanpa ia sadari, ia mulai melangkah lebih dekat dengan kotak besar itu. Hanya sekedar untuk membawanya ke Jakarta. Dan dari situ ia mulai mempunyai segenap niat untuk membongkar barang-barang yang bertuliskan nama “Han” itu.
            “Wah banyak sekali bawaanmu.”
            Ucapan Pak Ris membuat Jun terkejut.
            “Eh… anu, Pak, mungkin barang-barang yang ada di sini terbilang sedikit,” jawab Jun dengan tertegun
            “Mungkin sisanya akan saya tinggalkan di sini saja. Toh, paling cuma 4-5 tahun di sana.” lanjut Jun.
            “Baiklah kalau begitu. Tapi yang mustahil bapak ngga bisa membawanya sendiri semuanya sekaligus…” kata Pak Ris sekaligus memberi kode mata kepada Jun.
            “Ah… iya. Mari saya bantu, pak,” sambar Jun cepat-cepat menerima baik sandi dari Pak Ris bak sersan yang mendapatkan perintah dari letnannya.
            Semua beres, pikir Jun. Hanya menghitung beberapa jam saja ia sudah kembali ke kota kelahirannya. Ia mulai dibayangi oleh pikiran-pikiran. Mulai bayangannya tentang tempat tinggalnya nanti, kegiatan yang akan dilakukannya saat di kampus, juga tentang kardus usang yang tak ia longok dari kepindahannya ke Bandung hingga ia kembali lagi ke Jakarta. Saat mobilnya mulai memasuki gerbang tol, ia pun memiliki tekad untuk membuka kardus itu sesampainya di Jakarta.

(sementara itu di tempat lain)
Jakarta, Mei 2005

            “Dadah, Hanhan.” Ujar Sami sambil membalikkan badannya.
            “Bye… Sampai nanti ya…”
            Namun Sami sudah tak terlihat lagi dari pandangannya. Bocah laki-laki mungil kesayangannya sudah masuk ke dalam gerombolan murid-murid Taman Kanak-kanak lainnya. Lantas ia pun pergi dari tempat. Kaki melangkah menuju halte bis. Dengan tenangnya ia melihat jadwal keberangkatan dan duduk di bangku halte. Sekarang ia sudah resmi menjadi mahasiswi. Dan hanya beberapa tahun lagi ia lulus. Ia tak ingin berlama-lama di Universitas. Mengingat kondisi fisiknya yang saat ini sudah ambruk.
Setelah ia lulus, ia ingin menjadi seorang presenter sekaligus menjadi penyair. Rika bilang ia akan menambahkan satu lagi mimpi Hana, dan Rika akan membantunya. Rika tak menyebutkan mimpinya itu, namun terlihat spesial baginya.
            Tibanya di kampus, Hana mondar-mandir. Mata dan kakinya terus mencari seseorang. Ketika ia sedang mencari dan mencari, di hadapannya ia menatap kepada pemuda yang juga sedang menatapnya. Kedua pasang mata bertemu. Ada kata-kata yang tak bisa keluar dari kedua mulut mereka. Hana seperti melihat déjà vu yang tak terekam secara lengkap. Ketika kakinya melangkah ke arah lain, seseorang menabrak gadis itu.
            “Aduh!”
            “Aduh! Eh maaf, yah. Lagi buru-buru nih. Ngga apa-apa, ‘kan? Haduh ceroboh banget, sih, aku ini. Err… Maaf ya .. Kamu baik-baik aja, ‘kan?”
            Laki-laki sebaya itu terus menghujani Hana dengan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya sudah ia ketahui jawabannya. Hana hanya mengangguk sekenanya. Namun, laki-laki itu tetap saja mendekat. Menawarkan kekuatannya untuk membawa beban yang dapat ia angkut di dekapan Hana. Hana tetap terdiam dan memilih untuk pergi dari tempat itu. Diliriknya pemuda yang tadi sempat bertatapan dengannya. Tetapi, sayangnya ia sudah lenyap dari pandangan. Hana melangkahkan kaki meninggalkan laki-laki yang menabraknya, juga menginggalkan hal yang membuat jantungnya berdegup kencang. Sambil berjalan ia mengetik sebuah pesan singkat kepada Rika.

To : Rika

Lu dimana? Gue cariin lu di dekat madding
ga ketemu. Kita ketemuan di kantin aja seusai mata kuliah ya. Jam 3

From : Dihana



No comments:

Post a Comment