Sambil
melihat-lihat sekeliling kamarnya, seorang pemuda mengecek kembali perlengkapan
kuliahnya. Dengan tenang ia memindahkan kardus-kardus itu dari sudut kamarnya.
Pada kotak kardus yang terakhir, ia sempat mengingat-ngingat kapan terakhir
kali ia membukanya. Kotak kardus itu bertuliskan “Han’s”, tapi tak pernah ada
niatan untuk mengintip ke dalamnya. Tanpa ia sadari, ia mulai melangkah lebih
dekat dengan kotak besar itu. Hanya sekedar untuk membawanya ke Jakarta. Dan
dari situ ia mulai mempunyai segenap niat untuk membongkar barang-barang yang
bertuliskan nama “Han” itu.
“Wah banyak sekali bawaanmu.”
Ucapan Pak Ris membuat Jun terkejut.
“Eh… anu, Pak, mungkin barang-barang
yang ada di sini terbilang sedikit,” jawab Jun dengan tertegun
“Mungkin sisanya akan saya
tinggalkan di sini saja. Toh, paling cuma 4-5 tahun di sana.” lanjut Jun.
“Baiklah kalau begitu. Tapi yang
mustahil bapak ngga bisa membawanya
sendiri semuanya sekaligus…” kata Pak Ris sekaligus memberi kode mata kepada
Jun.
“Ah… iya. Mari saya bantu, pak,”
sambar Jun cepat-cepat menerima baik sandi dari Pak Ris bak sersan yang
mendapatkan perintah dari letnannya.
Semua beres, pikir Jun. Hanya
menghitung beberapa jam saja ia sudah kembali ke kota kelahirannya. Ia mulai
dibayangi oleh pikiran-pikiran. Mulai bayangannya tentang tempat tinggalnya
nanti, kegiatan yang akan dilakukannya saat di kampus, juga tentang kardus usang
yang tak ia longok dari kepindahannya ke Bandung hingga ia kembali lagi ke
Jakarta. Saat mobilnya mulai memasuki gerbang tol, ia pun memiliki tekad untuk
membuka kardus itu sesampainya di Jakarta.
(sementara itu
di tempat lain)
Jakarta, Mei 2005
“Dadah,
Hanhan.” Ujar Sami sambil membalikkan badannya.
“Bye… Sampai nanti ya…”
Namun Sami sudah tak terlihat lagi
dari pandangannya. Bocah laki-laki mungil kesayangannya sudah masuk ke dalam
gerombolan murid-murid Taman Kanak-kanak lainnya. Lantas ia pun pergi dari
tempat. Kaki melangkah menuju halte bis. Dengan tenangnya ia melihat jadwal
keberangkatan dan duduk di bangku halte. Sekarang ia sudah resmi menjadi
mahasiswi. Dan hanya beberapa tahun lagi ia lulus. Ia tak ingin berlama-lama di
Universitas. Mengingat kondisi fisiknya yang saat ini sudah ambruk.
Setelah
ia lulus, ia ingin menjadi seorang presenter sekaligus menjadi penyair. Rika
bilang ia akan menambahkan satu lagi mimpi Hana, dan Rika akan membantunya.
Rika tak menyebutkan mimpinya itu, namun terlihat spesial baginya.
Tibanya di kampus, Hana
mondar-mandir. Mata dan kakinya terus mencari seseorang. Ketika ia sedang
mencari dan mencari, di hadapannya ia menatap kepada pemuda yang juga sedang
menatapnya. Kedua pasang mata bertemu. Ada kata-kata yang tak bisa keluar dari
kedua mulut mereka. Hana seperti melihat déjà vu yang tak terekam secara
lengkap. Ketika kakinya melangkah ke arah lain, seseorang menabrak gadis itu.
“Aduh!”
“Aduh! Eh maaf, yah. Lagi buru-buru
nih. Ngga apa-apa, ‘kan? Haduh
ceroboh banget, sih, aku ini. Err… Maaf ya .. Kamu baik-baik aja, ‘kan?”
Laki-laki sebaya itu terus
menghujani Hana dengan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya sudah ia ketahui
jawabannya. Hana hanya mengangguk sekenanya. Namun, laki-laki itu tetap saja
mendekat. Menawarkan kekuatannya untuk membawa beban yang dapat ia angkut di
dekapan Hana. Hana tetap terdiam dan memilih untuk pergi dari tempat itu.
Diliriknya pemuda yang tadi sempat bertatapan dengannya. Tetapi, sayangnya ia
sudah lenyap dari pandangan. Hana melangkahkan kaki meninggalkan laki-laki yang
menabraknya, juga menginggalkan hal yang membuat jantungnya berdegup kencang.
Sambil berjalan ia mengetik sebuah pesan singkat kepada Rika.
|
To : Rika
Lu dimana? Gue cariin lu di dekat
madding
ga ketemu. Kita ketemuan di
kantin aja seusai mata kuliah ya. Jam 3
From : Dihana
|
|
No comments:
Post a Comment