other homepage

Tuesday, January 22, 2013

Bunga Clover untuk "Bunga" part 5


Di antara 4 sekawan yang lainnya, Rikalah yang paling mengetahui jarak yang merenggang antara Hana dan Jun. Seusai menemani Taufik seminar di kampus, Rika mempercepat langkahnya kea rah rumah Hana.

“Hai, Han! Boleh masuk?”

“Monggo, mbak.”

Rika ingin meluruskan kerenggangan jarak antara Jun dan Hana. Ia masuk ke dalam kamar Hana yang terbilang ‘unik’. Seperti biasa, tanpa berbasa-basi terlebih dahulu, Rika mengatakan dengan to the point.

“Han, ada yang perlu gue sampein ke elo. Lu tau kan gue pernah punya janji sama lu tentang 1 tambahan mimpi lu itu?”

“Iya inget. Itu tentang apa, Rik? Awas aja kalau ngomongnya ngawur,” ejek Hana.

“Yeee dasar ratu gembel. Engga bakalan lah. Makanya dengerin orang ngomong dulu kenapa, sih~”

“Hehehe…. Iya iya. Apa tuh, Rik?” ledek Hana yang dilanjutkan dengan menanyakannya dengan serius.

“Lu tau ngga pas waktu lu kecil lu pernah kecelakaan?”

“Duh, ngga inget, Rik. Kan lu yang ngeliat langsung. Gue sih ngga inget apa-apa.”

“Gini,” kata Rika memulai ceritanya.

“Dulu itu, lu orangnya ngga bisa diem banget. Paling pecicilan dibanding yang lain. Tapi ada satu cowok yang akrab banget sama lu. Lu tau ngga dia itu siapa?”

Hana menggelengkan kepalanya.

“Nama cowoknya itu Auzan Nur Hifzun, alias Jun.”

Hana ternganga, “kok bisa??”

“Jadi, lu dulu akrab banget sama dia. Sampe pas main pengantin-pengantinan kalian berdua menjadi sepasang pengantinnya. Dan kalian pun sering surat-menyurat padahal jendela kamar kalian bersebelahan. Waktu kalian nyari bunga Clover juga gitu. Kalian nyari bareng-bareng. Udah gitu nyimpen bunganya di kotak besi. Pokoknya kalian bener-bener aneh, deh. Dan kalian pun berniat membuat harta karun bersama, dan bunga itu salah satu harta karunnya.”

Hana menelan ludahnya. Setengah tidak percaya cerita dari Rika.

“Kemudian peristiwa yang ngga diinginkan terjadi,” lanjut Rika dengan nada suara yang lebih tegang, “lu jatuh dari atas pohon, dan lu koma selama 2 tahun. Ini juga membuat lu kehilangan semua ingatan lu. Lu ngga inget nama lu sendiri, Jun, gue, dan bahkan keluarga lu sendiri. Dan akhirnya ketika Jun pindah keluar kota, nyokap lu ngasih Jun harta karun kalian berdua. Dan ada kemungkinan Jun masih menyimpan harta karun itu.”

Cerita dari Rika mengiang-ngiang di benaknya. Sudah 2 tahun semenjak kembali bertemunya ia dengan Jun, baru kali ini ia mengetahui semua rahasianya. Dan ia merasa bersalah tak menanyakannya pada Jun. Dengan cepat Hana menergap jaketnya dan pergi untuk menemui Jun. Rika memanggil-manggil namanya di belakang, tapi ia tak memerdulikannya.

Saat berjumpa dengan Jun, Jun sedikit memalingkan wajahnya.

            “Aku mau masuk ke kamar kamu sekarang.”

            Dengan spontan Jun menoleh ke arah Hana.

            “Kamu.. mau ngapain?”

            Belum sempat Jun selesai bertanya-tanya, Hana sudah memasuki rumah Jun.

            “Hey, kamu mau ngapain, Han? Hana tunggu dulu. Hana!”

            Namun kaki Hana tetap melangkahkan ke arah kamar Jun. Setelah dibukanya pintu, ia mulai mencari-cari sebuah kotak yang diperkirakan bisa memuat surat-surat, bunga Clover, dan bukti-bukti lainnya.

            “Kamu ngapain, Han?! Semua itu barang-barangku!” ucapan Jun mulai menggertak

            Hana pun bangkit berdiri. Saat membalikkan badannya, kedua tangannya memegang sesuatu yang besar.

            “Kecuali barang-barang yang ada di sini kan?”

            Jun pun mengelak. Ia terkejut saat Hana menemukan barang-barangnya kembali. Ia merasa ia mendapatkan batin. Lalu ia terdiam. Ia kini  ingat benar kejadian masa lalunya. Ingat teringat masa kecilnya dulu dengan Hana, Termasuk peristiwa buruk yang dialami Hana.

            “Kenapa kamu memalingkan wajah kamu? Apa yang menjadi penyebab kamu melakukan itu? Dan mengapa kamu masih menyimpan ini semua Jun?  Kenapa?” nada suara Hana terisak.

            Jun tak menjawab. Ia rasa sudah waktunya ia mengakhirinya. Ia akan jujur kepada Hana mulai detik itu.

            “Terus terang aku ingin membuang semua barang itu,” jawab Jun seraya menatap mata Hana dengan pandangan kosong, namun sangat mengiris hati.

            “Aku memang akrab denganmu. Aku sangat senang ketika berada di dekat kamu. Tapi itu dulu, sebelum kamu mengalami kecelakaan dan akhirnya membuat kamu lupa semuanya termasuk aku dan kenangan bersamaku. Dan kamu yang sekarang tidak ingat dengan semua kebahagiaan yang aku dapat dahulu. Kamu sangat berbeda.” ujar Jun dengan sangat jelas dan sekaligus sangat menyakitkan.

            Tanpa terasa air mata menjalari pipi Hana. Ia tak menyangka kata-kata itu terucap begitu saja dari mulut Jun sendiri. Dan kini perasaannya pedih. Tetesan-tetesan itu semakin deras. Dengan penuh keberanian ia bertanya lagi.

            “Lantas, kenapa kamu tidak mengungkapkannya? Kenapa kamu tidak menjelaskan semua masa lalu? Dengan begitu kita bisa membangun kembali kebahagiaan itu.”

            “Kurasa masa lalu adalah masa lalu. Kita semua tumbuh dan berkembang. Dan kurasa kebahagiaan kita hanyalah kenangan belaka,” kata-kata itu sangat menusuk perasaan Hana, “kamu lebih cocok bersanding dengan Rama.”

            “Rama? Apa semua ini karena Rama?”

            “Tidak. Karena memang benar begitu kenyataannya. Kamu lebih senang jika berada di dekatnya.”

            “Apakah....,” kepala Hana tertunduk saat mulai menanyakannya, “apakah kamu lebih menyukai aku yang dahulu dibandingkan dengan yang sekarang.”

            “Perlukah aku menjelaskannya kembali?” jawab Jun dengan tatapan yang lebih menakutkan dari biasanya.

            Hana memilih untuk pergi dari tempat itu. Dibantingnya kardus itu dan ia berlari menuju rumahnya. Bunga Clover yang sudah mengering itu hancur tak terbentuk lagi. Seperti halnya bunga Clover itu, hati Hana remuk berkeping-keping. Dan ketika sampai di dalam rumah, jantungnya terasa sakit. Hana pun terbaring tak sadarkan diri.

No comments:

Post a Comment