Di
antara 4 sekawan yang lainnya, Rikalah yang paling mengetahui jarak yang
merenggang antara Hana dan Jun. Seusai menemani Taufik seminar di kampus, Rika
mempercepat langkahnya kea rah rumah Hana.
“Hai,
Han! Boleh masuk?”
“Monggo,
mbak.”
Rika
ingin meluruskan kerenggangan jarak antara Jun dan Hana. Ia masuk ke dalam
kamar Hana yang terbilang ‘unik’. Seperti biasa, tanpa berbasa-basi terlebih
dahulu, Rika mengatakan dengan to the
point.
“Han,
ada yang perlu gue sampein ke elo. Lu tau kan gue pernah punya janji sama lu
tentang 1 tambahan mimpi lu itu?”
“Iya
inget. Itu tentang apa, Rik? Awas aja kalau ngomongnya ngawur,” ejek Hana.
“Yeee
dasar ratu gembel. Engga bakalan lah. Makanya dengerin orang ngomong dulu
kenapa, sih~”
“Hehehe….
Iya iya. Apa tuh, Rik?” ledek Hana yang dilanjutkan dengan menanyakannya dengan
serius.
“Lu
tau ngga pas waktu lu kecil lu pernah kecelakaan?”
“Duh,
ngga inget, Rik. Kan lu yang ngeliat langsung. Gue sih ngga inget apa-apa.”
“Gini,”
kata Rika memulai ceritanya.
“Dulu
itu, lu orangnya ngga bisa diem
banget. Paling pecicilan dibanding yang lain. Tapi ada satu cowok yang akrab
banget sama lu. Lu tau ngga dia itu
siapa?”
Hana
menggelengkan kepalanya.
“Nama
cowoknya itu Auzan Nur Hifzun, alias Jun.”
Hana
ternganga, “kok bisa??”
“Jadi,
lu dulu akrab banget sama dia. Sampe pas main pengantin-pengantinan kalian
berdua menjadi sepasang pengantinnya. Dan kalian pun sering surat-menyurat
padahal jendela kamar kalian bersebelahan. Waktu kalian nyari bunga Clover juga
gitu. Kalian nyari bareng-bareng. Udah gitu nyimpen bunganya di kotak besi.
Pokoknya kalian bener-bener aneh, deh. Dan kalian pun berniat membuat harta
karun bersama, dan bunga itu salah satu harta karunnya.”
Hana
menelan ludahnya. Setengah tidak percaya cerita dari Rika.
“Kemudian
peristiwa yang ngga diinginkan terjadi,” lanjut Rika dengan nada suara yang
lebih tegang, “lu jatuh dari atas pohon, dan lu koma selama 2 tahun. Ini juga
membuat lu kehilangan semua ingatan lu. Lu ngga inget nama lu sendiri, Jun,
gue, dan bahkan keluarga lu sendiri. Dan akhirnya ketika Jun pindah keluar
kota, nyokap lu ngasih Jun harta karun kalian berdua. Dan ada kemungkinan Jun
masih menyimpan harta karun itu.”
Cerita
dari Rika mengiang-ngiang di benaknya. Sudah 2 tahun semenjak kembali
bertemunya ia dengan Jun, baru kali ini ia mengetahui semua rahasianya. Dan ia
merasa bersalah tak menanyakannya pada Jun. Dengan cepat Hana menergap jaketnya
dan pergi untuk menemui Jun. Rika memanggil-manggil namanya di belakang, tapi
ia tak memerdulikannya.
Saat
berjumpa dengan Jun, Jun sedikit memalingkan wajahnya.
“Aku mau masuk ke kamar kamu
sekarang.”
Dengan spontan Jun menoleh ke arah
Hana.
“Kamu.. mau ngapain?”
Belum sempat Jun selesai
bertanya-tanya, Hana sudah memasuki rumah Jun.
“Hey, kamu mau ngapain, Han? Hana
tunggu dulu. Hana!”
Namun kaki Hana tetap melangkahkan
ke arah kamar Jun. Setelah dibukanya pintu, ia mulai mencari-cari sebuah kotak
yang diperkirakan bisa memuat surat-surat, bunga Clover, dan bukti-bukti
lainnya.
“Kamu ngapain, Han?! Semua itu
barang-barangku!” ucapan Jun mulai menggertak
Hana pun bangkit berdiri. Saat
membalikkan badannya, kedua tangannya memegang sesuatu yang besar.
“Kecuali barang-barang yang ada di
sini kan?”
Jun pun mengelak. Ia terkejut saat
Hana menemukan barang-barangnya kembali. Ia merasa ia mendapatkan batin. Lalu
ia terdiam. Ia kini ingat benar kejadian
masa lalunya. Ingat teringat masa kecilnya dulu dengan Hana, Termasuk peristiwa
buruk yang dialami Hana.
“Kenapa kamu memalingkan wajah kamu?
Apa yang menjadi penyebab kamu melakukan itu? Dan mengapa kamu masih menyimpan
ini semua Jun? Kenapa?” nada suara Hana
terisak.
Jun tak menjawab. Ia rasa sudah
waktunya ia mengakhirinya. Ia akan jujur kepada Hana mulai detik itu.
“Terus terang aku ingin membuang
semua barang itu,” jawab Jun seraya menatap mata Hana dengan pandangan kosong,
namun sangat mengiris hati.
“Aku memang akrab denganmu. Aku
sangat senang ketika berada di dekat kamu. Tapi itu dulu, sebelum kamu
mengalami kecelakaan dan akhirnya membuat kamu lupa semuanya termasuk aku dan
kenangan bersamaku. Dan kamu yang sekarang tidak ingat dengan semua kebahagiaan
yang aku dapat dahulu. Kamu sangat berbeda.” ujar Jun dengan sangat jelas dan
sekaligus sangat menyakitkan.
Tanpa terasa air mata menjalari pipi
Hana. Ia tak menyangka kata-kata itu terucap begitu saja dari mulut Jun
sendiri. Dan kini perasaannya pedih. Tetesan-tetesan itu semakin deras. Dengan
penuh keberanian ia bertanya lagi.
“Lantas, kenapa kamu tidak
mengungkapkannya? Kenapa kamu tidak menjelaskan semua masa lalu? Dengan begitu
kita bisa membangun kembali kebahagiaan itu.”
“Kurasa masa lalu adalah masa lalu.
Kita semua tumbuh dan berkembang. Dan kurasa kebahagiaan kita hanyalah kenangan
belaka,” kata-kata itu sangat menusuk perasaan Hana, “kamu lebih cocok
bersanding dengan Rama.”
“Rama? Apa semua ini karena Rama?”
“Tidak. Karena memang benar begitu
kenyataannya. Kamu lebih senang jika berada di dekatnya.”
“Apakah....,” kepala Hana tertunduk
saat mulai menanyakannya, “apakah kamu lebih menyukai aku yang dahulu
dibandingkan dengan yang sekarang.”
“Perlukah aku menjelaskannya
kembali?” jawab Jun dengan tatapan yang lebih menakutkan dari biasanya.
Hana memilih untuk pergi dari tempat
itu. Dibantingnya kardus itu dan ia berlari menuju rumahnya. Bunga Clover yang
sudah mengering itu hancur tak terbentuk lagi. Seperti halnya bunga Clover itu,
hati Hana remuk berkeping-keping. Dan ketika sampai di dalam rumah, jantungnya
terasa sakit. Hana pun terbaring tak sadarkan diri.
No comments:
Post a Comment