Jun
turut membantu mempersiapkan untuk pesta. Ini adalah ide Taufik. Rama merapikan
ruangan. Sementara Jun memasak dan mengatur microphone untuk berkaraoke nanti.
Waktu satu setengah jam digunakan dengan baik oleh 3 sekawan baru ini. Sambil
beristirahat sejenak, Taufik menelpon Rika. Tapi ternyata terjadi masalah.
Motor Rika mogok dan ia memerlukan bantuan dari Taufik.
Taufik
pun dengan cepat menyambar kunci motornya. Ia tidak bisa meninggalkan temannya
dalam bencana, terutama terhadap Rika. Ia berpamitan dengan Jun dan Rama
kemudian.
“Gue
cabut bentar ya, nanti gue pengen service motor Rika. Sebagai gantinya mereka
make motor gue buat ke sini lagi.”
“Okay roger! Hati-hati ya,” timpal Rama.
“Oke.”
Taufik
pun berangkat. Ia adalah pengendara yang hadal nan lincah. Jadi hanya dalam 5
menit ia sudah sampai di tempat Hana berada. Dengan segera ia membawa service
motor Rika, dan memerintahkan Rika untuk ke rumahnya. Dengan kompak mereka
berpisah dari tempat itu. Dalam waktu 15 menit, Rika berhasil membawa Hana ke
rumah Taufik. Di depan rumahnya, Rama dan Jun sudah siap menyambut mereka
dengan gembira. Begitu juga Rika, yang suatu saat nanti akan membocorkan mimpi
Hana selama ini.
Hana
terkejut melihat sosok yang berada di depannya sekarang. Mata yang tak pernah
ia lupakan sedari pagi. Ia hanya bisa menunduk. Takut akan rona merah di
pipinya terlihat.
“Eh
kenalin nih. Temen karib gue. Namaya Dihana, tapi panggil aja dia Hana.”
“Hana,”
ulang Hana sambil membungkukkan badannya, namun kepalanya tetap menunduk.
Hana?
Adakah hubungannya dengan Han? Kalau saja iya, apakah benar ia yang menjadi
tokoh yang aku cari selama pekan ini? Pertanyaan-pertanyaannya Jun belum
terpecahkan. Malah yang terjadi semakin kompleks.
“Han,
kenalin ini Rama dan yang ini …”
“Jun,”
lanjut Jun.
Nama
itu terngiang-ngiang di telinga Hana. Seperti pernah mendengar nama itu,
pikirnya. Kepalanya yang semula tertunduk, perlahan-lahan mulai mengarahkan ke
depan. Maka ia melihat wajah itu kedua kalinya untuk hari ini. Rika nampak
begitu senang melihat keduanya bersitatap. Seolah-olah ia adalah Tuhan yang
sudah memprediksikan situasi seperti ini.
“Oh,
kamu Hana? Maafin aku ya soal yang tadi pagi..” sambar Rama.
“Iya,
ngga apa-apa, kok. Lagian salah aku
juga udah bengong.”
Bengong?
Tanya Jun di dalam hati. Bukankah aku dan dengannya bertatapan satu sama lain?
Apakah mungkin ia melupakannya? Ataukah ia tak ingin mengingat-ingat kejadian
itu sekarang? Pertanyaan-pertanyaan menghantui pikirannya kembali.
(selang
beberapa menit kemudian)
Rika
menawarkan potongan-potongan kue kepada 4 kawannya. Semuanya bercanda di
ruangan yang terlihat mewah itu. Rama bercengkrama dengan Hana. Pemandangan ini
membuat Jun terasa sedikit cemburu. Padahal ia baru saja bertemu. Ada rasa yang
tak biasa kini. Sepertinya ia sudah jatuh cinta pada pandangan yang pertama
dengan Hana. Jun pergi ke tempat prasmanan untuk mengambil segelas air jeruk. Diteguknya
air jeruk dan membiarkan sari jeruknya melewati kerongkongannya.
Ingin
pulang rasanya dari sini. Dengan melihat begitu, sudah membuat hatinya hancur
berantakan. Herannya ia baru bertemu dengan gadis mungil yang satu itu, dan ia baru berkenalan sekitar
2 jam yang lalu. Bahkan Jun pun tak ingat wajah-wajah seperti Hana. Tetapi ia
merasa dirinya sudah jatuh terlalu dalam ke dalam jurang.
Hana
dengan lincah datang ke meja prasmanan pula. Diambilnya 2 potong kue sekaligus
dan memakannya. Jun memperhatikannya. Ada cream yang tersisa di bibir Hana, dan
Hana sendiri tak menyadari itu. Melihat tingkah laku gadis mungil yang unik
itu, Jun pun tertawa. Dengan terheran-heran, Hana kebingungan karena Jun. Tapi
yang terjadi Hana juga ikut turut tertawa.
“Lho,
kok ikut tertawa?”
“Abisnya
kamu tertawa, kupikir ada yang lucu. Ya sudah aku ikut tertawa juga. Hehehe,”
jawab Hana sejadinya.
“Ahahahaha…
kamu kok lucu banget, sih.” Jun pun mengambil selembar tisu dan mulai menyeka
noda cream di mulut Hana.
Mau
tak mau mata mereka kembali bersitatap. Hana merasakan ketenangan di sana. Ia
ingin memandang mata itu jauh lebih lama. Jauh lebih dari sekedar hanya
tatapan. Hana ingin mengenal tatapan itu lebih lama. Jun pun jadi lebih tau
bahwa mata Hana berwarna coklat tua. Tak ada alasan baginya untuk terus menatap
mata gadis yang ada di depannya sekarang. Seolah-olah jarak di antara mereka
semakin mengecil. Begitu pula dengan jarak kedua pasang mata itu.
Hana
pun menyadari bahwa terjadi perubahan aura di sekelilingnya. Dan ia berusaha
memalingkan wajahnya. Jun pun berpikiran demikian. Suasana pun berubah menjadi
canggung. Mereka kehilangan kata-kata. Melihat situasi yang tak mengenakan,
Rama mendekat kepada keduanya.
No comments:
Post a Comment