other homepage

Tuesday, January 22, 2013

Bunga Clover untuk "Bunga" part 5


Di antara 4 sekawan yang lainnya, Rikalah yang paling mengetahui jarak yang merenggang antara Hana dan Jun. Seusai menemani Taufik seminar di kampus, Rika mempercepat langkahnya kea rah rumah Hana.

“Hai, Han! Boleh masuk?”

“Monggo, mbak.”

Rika ingin meluruskan kerenggangan jarak antara Jun dan Hana. Ia masuk ke dalam kamar Hana yang terbilang ‘unik’. Seperti biasa, tanpa berbasa-basi terlebih dahulu, Rika mengatakan dengan to the point.

“Han, ada yang perlu gue sampein ke elo. Lu tau kan gue pernah punya janji sama lu tentang 1 tambahan mimpi lu itu?”

“Iya inget. Itu tentang apa, Rik? Awas aja kalau ngomongnya ngawur,” ejek Hana.

“Yeee dasar ratu gembel. Engga bakalan lah. Makanya dengerin orang ngomong dulu kenapa, sih~”

“Hehehe…. Iya iya. Apa tuh, Rik?” ledek Hana yang dilanjutkan dengan menanyakannya dengan serius.

“Lu tau ngga pas waktu lu kecil lu pernah kecelakaan?”

“Duh, ngga inget, Rik. Kan lu yang ngeliat langsung. Gue sih ngga inget apa-apa.”

“Gini,” kata Rika memulai ceritanya.

“Dulu itu, lu orangnya ngga bisa diem banget. Paling pecicilan dibanding yang lain. Tapi ada satu cowok yang akrab banget sama lu. Lu tau ngga dia itu siapa?”

Hana menggelengkan kepalanya.

“Nama cowoknya itu Auzan Nur Hifzun, alias Jun.”

Hana ternganga, “kok bisa??”

“Jadi, lu dulu akrab banget sama dia. Sampe pas main pengantin-pengantinan kalian berdua menjadi sepasang pengantinnya. Dan kalian pun sering surat-menyurat padahal jendela kamar kalian bersebelahan. Waktu kalian nyari bunga Clover juga gitu. Kalian nyari bareng-bareng. Udah gitu nyimpen bunganya di kotak besi. Pokoknya kalian bener-bener aneh, deh. Dan kalian pun berniat membuat harta karun bersama, dan bunga itu salah satu harta karunnya.”

Hana menelan ludahnya. Setengah tidak percaya cerita dari Rika.

“Kemudian peristiwa yang ngga diinginkan terjadi,” lanjut Rika dengan nada suara yang lebih tegang, “lu jatuh dari atas pohon, dan lu koma selama 2 tahun. Ini juga membuat lu kehilangan semua ingatan lu. Lu ngga inget nama lu sendiri, Jun, gue, dan bahkan keluarga lu sendiri. Dan akhirnya ketika Jun pindah keluar kota, nyokap lu ngasih Jun harta karun kalian berdua. Dan ada kemungkinan Jun masih menyimpan harta karun itu.”

Cerita dari Rika mengiang-ngiang di benaknya. Sudah 2 tahun semenjak kembali bertemunya ia dengan Jun, baru kali ini ia mengetahui semua rahasianya. Dan ia merasa bersalah tak menanyakannya pada Jun. Dengan cepat Hana menergap jaketnya dan pergi untuk menemui Jun. Rika memanggil-manggil namanya di belakang, tapi ia tak memerdulikannya.

Saat berjumpa dengan Jun, Jun sedikit memalingkan wajahnya.

            “Aku mau masuk ke kamar kamu sekarang.”

            Dengan spontan Jun menoleh ke arah Hana.

            “Kamu.. mau ngapain?”

            Belum sempat Jun selesai bertanya-tanya, Hana sudah memasuki rumah Jun.

            “Hey, kamu mau ngapain, Han? Hana tunggu dulu. Hana!”

            Namun kaki Hana tetap melangkahkan ke arah kamar Jun. Setelah dibukanya pintu, ia mulai mencari-cari sebuah kotak yang diperkirakan bisa memuat surat-surat, bunga Clover, dan bukti-bukti lainnya.

            “Kamu ngapain, Han?! Semua itu barang-barangku!” ucapan Jun mulai menggertak

            Hana pun bangkit berdiri. Saat membalikkan badannya, kedua tangannya memegang sesuatu yang besar.

            “Kecuali barang-barang yang ada di sini kan?”

            Jun pun mengelak. Ia terkejut saat Hana menemukan barang-barangnya kembali. Ia merasa ia mendapatkan batin. Lalu ia terdiam. Ia kini  ingat benar kejadian masa lalunya. Ingat teringat masa kecilnya dulu dengan Hana, Termasuk peristiwa buruk yang dialami Hana.

            “Kenapa kamu memalingkan wajah kamu? Apa yang menjadi penyebab kamu melakukan itu? Dan mengapa kamu masih menyimpan ini semua Jun?  Kenapa?” nada suara Hana terisak.

            Jun tak menjawab. Ia rasa sudah waktunya ia mengakhirinya. Ia akan jujur kepada Hana mulai detik itu.

            “Terus terang aku ingin membuang semua barang itu,” jawab Jun seraya menatap mata Hana dengan pandangan kosong, namun sangat mengiris hati.

            “Aku memang akrab denganmu. Aku sangat senang ketika berada di dekat kamu. Tapi itu dulu, sebelum kamu mengalami kecelakaan dan akhirnya membuat kamu lupa semuanya termasuk aku dan kenangan bersamaku. Dan kamu yang sekarang tidak ingat dengan semua kebahagiaan yang aku dapat dahulu. Kamu sangat berbeda.” ujar Jun dengan sangat jelas dan sekaligus sangat menyakitkan.

            Tanpa terasa air mata menjalari pipi Hana. Ia tak menyangka kata-kata itu terucap begitu saja dari mulut Jun sendiri. Dan kini perasaannya pedih. Tetesan-tetesan itu semakin deras. Dengan penuh keberanian ia bertanya lagi.

            “Lantas, kenapa kamu tidak mengungkapkannya? Kenapa kamu tidak menjelaskan semua masa lalu? Dengan begitu kita bisa membangun kembali kebahagiaan itu.”

            “Kurasa masa lalu adalah masa lalu. Kita semua tumbuh dan berkembang. Dan kurasa kebahagiaan kita hanyalah kenangan belaka,” kata-kata itu sangat menusuk perasaan Hana, “kamu lebih cocok bersanding dengan Rama.”

            “Rama? Apa semua ini karena Rama?”

            “Tidak. Karena memang benar begitu kenyataannya. Kamu lebih senang jika berada di dekatnya.”

            “Apakah....,” kepala Hana tertunduk saat mulai menanyakannya, “apakah kamu lebih menyukai aku yang dahulu dibandingkan dengan yang sekarang.”

            “Perlukah aku menjelaskannya kembali?” jawab Jun dengan tatapan yang lebih menakutkan dari biasanya.

            Hana memilih untuk pergi dari tempat itu. Dibantingnya kardus itu dan ia berlari menuju rumahnya. Bunga Clover yang sudah mengering itu hancur tak terbentuk lagi. Seperti halnya bunga Clover itu, hati Hana remuk berkeping-keping. Dan ketika sampai di dalam rumah, jantungnya terasa sakit. Hana pun terbaring tak sadarkan diri.

Bunga Clover untuk "Bunga" part 4


“Eh, kita karaokean gimana? Sampe larut lah... mumpung besok kita libur, nih. Setuju?”

“Boleh boleh, tuh. Yuk?” Hana mengiyakan sambil mengajukan konfirmasi ke Jun.

Challenge accepted!” jawab Jun dengan mantab.

Malam itu mereka merasakan betapa hebatnya dunia ciptaan Tuhan. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin Jun tunjukkan ke Hana. Tapi hal itu ia urungkan sampai ia mendapatkan bukti yang lebih kuat lagi. Baginya, malam ini sudah cukup membuatnya mendebarkan, berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Dan ia akan selalu ingat kejadian malam ini, dan juga pandangan ia lihat pada malam ini.



Cek kesehatan setiap minggu siang adalah jadwal rutin Hana sekarang. Menjelang memasuki universitas ia rajin pergi ke puskesmas terdekat untuk sekedar memeriksa kesehatannya. Terakhir kali ia mendapatkan kabar dari dokter pribadinya bahwa ia menderita penyakit jantung koroner. Sedikit shock memang mendengarkannya, tapi ia yakin ia bisa mengatasinya. Perjalanan menuju puskesmas tak begitu jauh. Yakni dengan menempuh kurang lebih 150 meter Hana sudah bisa melakukan pemeriksaan. Sesampainya, Hana mengisi daftar tamu di resepsionis dan melesat ke ruangan dokter pribadinya itu.

“Bagaimana keadaannya sekarang, dok?” Tanya Hana dengan hati-hati.

“Sudah cukup membaik dibandingkan 2 minggu sebelumnya. Tapi perlu diingat ya Hana, kamu sekarang sudah menjadi mahasiswi, dan kamu harus mengurangi kegiatan-kegiatan khususnya kegiatan di malam hari. Dan jangan lupa sering minum vitamin sehari sekali serta biasakan berolahraga pada pagi hari.”

Hana pun pamit dari hadapan dokter. Ia menyadari benar kondisi fisiknya sekarang. Ia sudah lemah. Tak sekuat dahulu. Rahasia mengenai penyakitnya hanya diketahui oleh Rika. Bahkan ia tidak menceritakannya kepada keluarganya sendiri. Cukup Rika saja yang tahu. Ia pun pergi ke pasar guna membeli jeruk, wortel, dan vitamin-vitamin sesuai anjuran dokternya.



Matahari masuk melalui sela-sela gordyn kamar Taufik. Kamarnya cukup berantakan. Jun-lah yang bangun pertama kali dan mulai membenahi sisa-sisa pesta kemarin malam. Kebangunannya disusul oleh Taufik. Lalu kemudian Rama.

“Eh, ternyata udah ada yang lebih rajin daripada gue ya. Sebentar gue ambil serokan sama sapu,” Taufik berjalan keluar kamar.

Rama membantu Jun membuang sampah-sampah yang berserakan.

“Lu tertarik ya sama Hana?” tanya Rama pada akhirnya. Hal ini membuat Jun kehilangan kata-kata.

“Maksudnya?” Jun membalikkan pertanyaan.

“Udah gue tau kok lu lagi suka kan sama dia? Ngaku aja deh.” kata Rama dengan nada sedikit serius.

Jun tidak langsung menjawabnya. Ia menimbang-nimbang maksud pertanyaan itu lalu mulai menjawab.

“Engga,” jawab Jun pada akhirnya. Mendengar jawaban Jun, Rama menatap Jun lekat-lekat.

“Asal lu tau aja Jun, gue lagi jatuh cinta sama…….sama Hana,” Rama tak kalah berargumen.

Jun tercengang, ”jadi lu suka sama dia?”

“Iya,” jawab Rama dengan yakin.

“Tapi gue ga suka ketika melihat lu deket-deket sama dia,” lanjut Rama.

Jun menundukkan kepala. Menyesal atas jawabannya. Kini ia tak tahu harus berbuat apa. Ia jatuh cinta kepada Hana, tapi ia juga tidak tega melihat kawannya terluka karenanya. Posisinya sedang terjepit. Ia bingung antara ingin memiliki orang ia cintai atau melihat sahabatnya bergandengan dengan orang yang dicintainya. Kalau saja ada keajaiban, ia tak ingin berada di sini. Lebih baik ia meninggal daripada harus memilih pilihan yang tak bisa ia pilih.

“Jun? Are you okay?” tanya Rama.

Yeah, I’m fine. Hanya lupa sesuatu aja. Tadi lu bilang lu suka sama dia, ya? Wah, gue dukung banget deh.”

“Lu yakin gue sama dia bakalan cocok?”

Sure! Yakin seratus persen deh!”

“Oke, do’ain gue ya.”

“Yup!”

Kata-kata itu keluar dengan nada yang berat. Kata-kata yang menyebabkan terdapat lubang di hatinya. Ia merasa paling bodoh dan bersalah kepada dirinya sendiri. Namun, ia sudah terlanjur menyetujui hubungan Rama dengan Hana. Ia tak bisa menarik kembali ucapannya maupun orang yang dicintainya. Tuhan, jika ada satu kekuatan, mungkin dalam sekejap perasaan itu akan ia hapus. Tapi, ternyata Tuhan berkehendak lain.

Keputusannya itu malah membuat Jun semakin sakit hati. Mereka nampak akrab dan dijuluki Romeo-Juliet di kampus. Jun pun sering menghindar dari hadapan mereka. Meski ia tahu ia salah, tapi ia pikir itulah jalan satu-satunya agar membuat ia akan lupa terhadap perasaanya. But it is hard to make it fades away. Dan dengan cara menghindarlah Jun akhirnya perlahan melepas segenap rasa cinta itu.

Bunga Cover untuk "Bunga" part 3


Jun turut membantu mempersiapkan untuk pesta. Ini adalah ide Taufik. Rama merapikan ruangan. Sementara Jun memasak dan mengatur microphone untuk berkaraoke nanti. Waktu satu setengah jam digunakan dengan baik oleh 3 sekawan baru ini. Sambil beristirahat sejenak, Taufik menelpon Rika. Tapi ternyata terjadi masalah. Motor Rika mogok dan ia memerlukan bantuan dari Taufik.

Taufik pun dengan cepat menyambar kunci motornya. Ia tidak bisa meninggalkan temannya dalam bencana, terutama terhadap Rika. Ia berpamitan dengan Jun dan Rama kemudian.

“Gue cabut bentar ya, nanti gue pengen service motor Rika. Sebagai gantinya mereka make motor gue buat ke sini lagi.”

Okay roger! Hati-hati ya,” timpal Rama.

“Oke.”

Taufik pun berangkat. Ia adalah pengendara yang hadal nan lincah. Jadi hanya dalam 5 menit ia sudah sampai di tempat Hana berada. Dengan segera ia membawa service motor Rika, dan memerintahkan Rika untuk ke rumahnya. Dengan kompak mereka berpisah dari tempat itu. Dalam waktu 15 menit, Rika berhasil membawa Hana ke rumah Taufik. Di depan rumahnya, Rama dan Jun sudah siap menyambut mereka dengan gembira. Begitu juga Rika, yang suatu saat nanti akan membocorkan mimpi Hana selama ini.

Hana terkejut melihat sosok yang berada di depannya sekarang. Mata yang tak pernah ia lupakan sedari pagi. Ia hanya bisa menunduk. Takut akan rona merah di pipinya terlihat.

“Eh kenalin nih. Temen karib gue. Namaya Dihana, tapi panggil aja dia Hana.”

“Hana,” ulang Hana sambil membungkukkan badannya, namun kepalanya tetap menunduk.

Hana? Adakah hubungannya dengan Han? Kalau saja iya, apakah benar ia yang menjadi tokoh yang aku cari selama pekan ini? Pertanyaan-pertanyaannya Jun belum terpecahkan. Malah yang terjadi semakin kompleks.

“Han, kenalin ini Rama dan yang ini …”

“Jun,” lanjut Jun.

Nama itu terngiang-ngiang di telinga Hana. Seperti pernah mendengar nama itu, pikirnya. Kepalanya yang semula tertunduk, perlahan-lahan mulai mengarahkan ke depan. Maka ia melihat wajah itu kedua kalinya untuk hari ini. Rika nampak begitu senang melihat keduanya bersitatap. Seolah-olah ia adalah Tuhan yang sudah memprediksikan situasi seperti ini.

“Oh, kamu Hana? Maafin aku ya soal yang tadi pagi..” sambar Rama.

“Iya, ngga apa-apa, kok. Lagian salah aku juga udah bengong.”

Bengong? Tanya Jun di dalam hati. Bukankah aku dan dengannya bertatapan satu sama lain? Apakah mungkin ia melupakannya? Ataukah ia tak ingin mengingat-ingat kejadian itu sekarang? Pertanyaan-pertanyaan menghantui pikirannya kembali.



(selang beberapa menit kemudian)

Rika menawarkan potongan-potongan kue kepada 4 kawannya. Semuanya bercanda di ruangan yang terlihat mewah itu. Rama bercengkrama dengan Hana. Pemandangan ini membuat Jun terasa sedikit cemburu. Padahal ia baru saja bertemu. Ada rasa yang tak biasa kini. Sepertinya ia sudah jatuh cinta pada pandangan yang pertama dengan Hana. Jun pergi ke tempat prasmanan untuk mengambil segelas air jeruk. Diteguknya air jeruk dan membiarkan sari jeruknya melewati kerongkongannya.

Ingin pulang rasanya dari sini. Dengan melihat begitu, sudah membuat hatinya hancur berantakan. Herannya ia baru bertemu dengan gadis mungil yang satu itu, dan ia baru berkenalan sekitar 2 jam yang lalu. Bahkan Jun pun tak ingat wajah-wajah seperti Hana. Tetapi ia merasa dirinya sudah jatuh terlalu dalam ke dalam jurang.

Hana dengan lincah datang ke meja prasmanan pula. Diambilnya 2 potong kue sekaligus dan memakannya. Jun memperhatikannya. Ada cream yang tersisa di bibir Hana, dan Hana sendiri tak menyadari itu. Melihat tingkah laku gadis mungil yang unik itu, Jun pun tertawa. Dengan terheran-heran, Hana kebingungan karena Jun. Tapi yang terjadi Hana juga ikut turut tertawa.

“Lho, kok ikut tertawa?”

“Abisnya kamu tertawa, kupikir ada yang lucu. Ya sudah aku ikut tertawa juga. Hehehe,” jawab Hana sejadinya.

“Ahahahaha… kamu kok lucu banget, sih.” Jun pun mengambil selembar tisu dan mulai menyeka noda cream di mulut Hana.

Mau tak mau mata mereka kembali bersitatap. Hana merasakan ketenangan di sana. Ia ingin memandang mata itu jauh lebih lama. Jauh lebih dari sekedar hanya tatapan. Hana ingin mengenal tatapan itu lebih lama. Jun pun jadi lebih tau bahwa mata Hana berwarna coklat tua. Tak ada alasan baginya untuk terus menatap mata gadis yang ada di depannya sekarang. Seolah-olah jarak di antara mereka semakin mengecil. Begitu pula dengan jarak kedua pasang mata itu.

Hana pun menyadari bahwa terjadi perubahan aura di sekelilingnya. Dan ia berusaha memalingkan wajahnya. Jun pun berpikiran demikian. Suasana pun berubah menjadi canggung. Mereka kehilangan kata-kata. Melihat situasi yang tak mengenakan, Rama mendekat kepada keduanya.

Bunga Clover untuk "Bunga" part 2


(sementara itu saat jam istirahat dimulai)
            Jun mengambil satu porsi paket ayam bakar. Ia membutuhkan banyak tenaga hari ini. Semalaman ia tidak tidur pulas. Ini sudah hari ke 7 ia memikirkan isi dari kotak coklat itu. Sekarang ia tahu isi dari kotak usang itu. Bukan hanya sekedar kotak usang. Di dalam kotak itu hanya berisikan surat-surat usang yang tak lagi bisa dibaca, boneka-boneka usang, kertas-kertas usang, dan satu kotak besi tua. Di dalam kotak besi itu terdapat satu lembar daun semanggi berkelopak empat.
            Hingga saat ini Jun tak mengingat persis tokoh “Han”. Surat-surat dan kertas-kertas tidak bisa dijadikan petunjuk untuknya. Kalau saja ia bertemu dengan seseorang yang bernama “Han”, ia pasti menunjukkan setumpuk barang-barang kuno itu hingga dapat tersusun menjadi kardus kepadanya. Sambil memikirkannya, ia menyantap ayam bakar pesanannya. Entah apa yang akan ia lakukan nanti. Sama sekali tak ada titik terang.
Saat mengunyah ayamnya, Jun pun teringat akan sosok gadis yang ia amati tadi pagi. Nampak begitu semangat membaca artikel-artikel di madding. Gadis mungil itu terlihat periang. Rambutnya melewati bahu. Memakai baju lengan panjang dan celana jeans. Tak lama kemudian ia terlihat seperti sedang mencari orang bak beradu acting dengan serigala pemangsa. Lalu kedua mata mereka bertemu. Mata yang sudah diperkirakan memiliki warna coklat itu menatapnya.
“Woy, bengong aja!”
Lamunan Jun pecah. Kini kenalannya duduk dihadapannya. Menyantap menu nasi goreng favoritnya.
“Ngga, kenyang apa, Pik, makan nasi goreng doang?” tanya Jun.
Jun hanya menggelengkan kepalanya sedikit, lalu melanjutkan makan.
“Rama! Gabung ke sini, yuk!” sahut Taufik kepada yang lain.
Orang yang dipanggil namanya tersebut menengok .Dia mengubah arah kakinya. Menuju ke tempat Taufik berada.
Sorry ngerepotin. Ngga apa-apa, ‘kan?”
It’s okay, guys. Udah makan aja.”
Jun berpikir sebentar. Dia yang menabrak gadis itu, katanya di dalam hati. Lalu Jun melanjutkan makannya kembali.
“Oh iya. Kenalin, Ram. Dia Jun. Dateng dari Bandung.”
“Kenalin gue Rama. Masuk fakultas sastra Rusia di sini. Lu?”
“Gue Jun. Masuk akuntansi,” jawab singkat Jun seraya menyambut tangan Rama.
“Gue rasa nanti kita bakal ngalamin kejadian keren,” sambar Taufik yang tidak nyambung. Jun dan Rama pun terheran-heran ‘imajinasi baru’ dari Taufik ini.
“Ha? Apaan sih lu , Pik? Ngga jelas.” protes Rama.
“Ngaco aja nih, Opik. Tapi gue aminin deh,” tutur Jun.
“Nah, bagus!” mata Taufik tampak berbinar-binar.
Namun bagi Jun, ia merasakan yang tak mengenakan. Pasti akan terjadi sesuatu nanti. Entah itu akan datang seseorang yang bernama Han. Entah juga ada keajaiban perkenalannya dengan Rama dan Taufik. Atau mungkin dengan gadis yang mencuri perhatiannya itu. Yang jelas Jun tak mau terlalu memikirkannya sekarang. Ia harus kembali ke kelas dan menyantap pelajaran perusahaan dagang nanti di kelas.

Di kantin sepulang mata kuliah, Rika melihat-lihat kontak yang ada di telepon genggamnya. Layarnya berhenti pada sebuah kontak nama. Ia menekan tombol call. Terdengar nada sambung. Begitu lama ia mendengarkan nada sambung itu. Dan tak lama kemudian terdengar suara yang sudah lama ia kenal.
“Hallo..” jawab si penerima telepon
“Lu dimana?”
“Gue sebentar lagi sampe kok.”
“Berapa jam kira-kira?”
“Hahaha… Sebentar doang kok. Ngga nyampe 30 menit.”
“Oh, iya deh. Cepet ya.”
“Oke sip,” jawab Hana mantab.
Setelah menutup telepon, Hana dengan sigap merapikan semua catatan-catatan tugas dari dosen. Cukup mengherankan memang. Mahasiswi yang baru masuk mata kuliah sudah diberi catatan-catatan seperti tipe-tipe gaya berbicara, point-point yang digunakan dalam menyampaikan informasi, dan lain sebagainya. Hana tetap optimis dan akan selalu optimis. Ia yakin bukan hanya ilmu yang akan ia dapatkan, tapi juga cita yang ia idam-idamkan.
Tasnya sudah siap dikenakannya. Ia keluar kelas dan mengarahkan pandangan, badannya, serta kakinya menuju kantin. Setibanya, pandangannya langsung tertuju pada temannya. Tanpa ragu, ia mulai mendekati Rika. Mukanya yang semula murung akibat catatan-catatan yang seperti pidato Adolf Hitler, berubah seketika menjadi periang.
Mendengar ada suara langkah kaki yang mendekat, Rika menoleh. Terlihat gadis sebaya tersenyum mendekat, lalu duduk di hadapannya. Kemudian Hana memulai pembicaraan.
“Udah lama?” tanyanya dengan ekstra hati-hati. Kini ia hanya bisa memelas.
“Banget. Hampir seabad kali gue di sini.” Nadanya terlihat sedikit kesal.
“Maaf. Tadi dosennya benar-benar sadis. Ngasih catatan setumpuk. Udah gitu…” belum sempat melanjutkan kata-katanya, Rika sudah menyambar duluan.
“Iya, gue paham kok. Tenang aja. Tapi lainkali kasih kabar dong. Jangan biarin gue ngitungin bulu tangan gini.”
“Hahaha… Iya kok, Rik.”
Warna di wajah Hana tiba-tiba berubah menjadi cerah. Ia pun bersumpah untuk menepati janjinya itu.
“Ngomong-ngomong ke rumah Taufik yuk? Partying,” ajak Rika.
Party buat?” tanya Hana.
“Yah.. semacam pesta kecil-kecilan gitu deh. Yang ikut juga cuman 5 orang. Buat ngerayain masuknya kita di kampus ini,” jelas Rika.
“Hmm… Boleh deh. Sekarang?”
“2 jam lagi kita berangkat.”
“Oke kalau begitu.”

Wednesday, January 16, 2013

cincin

"kau akan mendapatkannya nanti di hari yang sering kau impikan"

Catatan Miss Alpukat

Ketika itu aku bertemu dengan seorang aktor yang tampan dan rupawan. Badannya semapai dan tinggi. Benakku mengira-ngira bahwa ia bukanlah seorang aktor. Ku berpaling sebentar ke arah jus alpukat di depanku dan melirik kembali kepada badan yang nampak atletis tadi. Ia duduk membelakangi arah kedatangannya. Dibandingkan dengan detik-detik sebelumnya, wajahnya terlihat lebih menawan....dan juga lebih dekat....dan tanpa ada ekspresi apa-apa. Seperti baju yang tak bermotif. Ia sesekali melihat ke arah jam. Sambil menjilat es krim mini dari salah satu produk terkenal di foodcourt, aku mengamatinya. Dan berakhir menjadi kekaguman. Ah.. idolaku...
Dan waktunya ia untuk beraksi. Matanya mengamati ke sekitar dan perlahan bola matanya menunduk. Ia membuka plastik serbuk dari kantung jasnya, lalu terhiruplah butir-butir halus itu. Pincingan mataku ku ulang berulang kali. Sampai pada ke pincingan yang terakhir mataku tak berdusta pada majikannya. Kembali mata ini menatap jus alpukat di dekatnya yang beberapa senti lagi akan habis. Es krim di tangannya sudah mulai mencair. Menjilatnya dengan pikiran penuh beban. Kini ia persis dengan seekor anjing. Hingga akhirnya pada menit terakhir ia di tempat itu, tak memberanikan diri untuk menoleh ke arah kanannya..

Tuesday, January 15, 2013

"Kiss You"

Kiss You

by : One Direction



Oh I just wanna take you anywhere that you like
We can go out any day any night
Baby I'll take you there take you there
Baby I'll take you there, there

Oh tell me tell me tell me how to turn your love on
You can get get anything that you want
Baby just shout it out shout it out
Baby just shout it out

And if you
You want me to
Lets make a move, yeah

So tell me girl if every time we

Touch
You get this kinda rush.
Let me say yea a yeah a yeah yeah a yeah

If you don't wanna take this slow
If you just wanna take me home
Let me say yeah a yeah a yeah yeah a yeah
And let me kiss you

Oh baby, baby don't you know you got what I need
Lookin' so good from your head to your feet
C'mon come over here over here
C'mon come over here yeah

Oh I just wanna show you off to all of my friends
Makin' them drool down their chiney chin chins
Baby be mine tonight, mine tonight
Baby be mine tonight yeah

And if you
You want me too
Lets make a move, yeah

So tell me girl if every time we

Touch
You get this kinda rush.
Let me say yea a yeah a yeah yeah a yeah

If you don't wanna take this slow
If you just wanna take me home
Let me say yeah a yeah a yeah yeah a yeah
And let me kiss you
Let me kiss you
Let me kiss you
Let me kiss you
Let me kiss you

Na na na na na na na na
Na na na na na na na na
Na na na na na na na na

Yeah so tell me girl if every time we

Touch
You get this kinda rush.
Let me say yea a yeah a yeah yeah a yeah

If you don't wanna take this slow
If you just wanna take me home
Let me say yeah a yeah a yeah yeah a yeah
Touch
You get this kinda rush.
Let me say yea a yeah a yeah yeah a yeah

Touch
You get this kinda rush.
Let me say yea a yeah a yeah yeah a yeah

If you don't wanna take this slow
If you just wanna take me home
Let me say yeah a yeah a yeah yeah a yeah
Touch
You get this kinda rush.
Let me say yea a yeah a yeah yeah a yeah

Sunday, January 6, 2013

Bunga Clover untuk "Bunga" part 1


Sambil melihat-lihat sekeliling kamarnya, seorang pemuda mengecek kembali perlengkapan kuliahnya. Dengan tenang ia memindahkan kardus-kardus itu dari sudut kamarnya. Pada kotak kardus yang terakhir, ia sempat mengingat-ngingat kapan terakhir kali ia membukanya. Kotak kardus itu bertuliskan “Han’s”, tapi tak pernah ada niatan untuk mengintip ke dalamnya. Tanpa ia sadari, ia mulai melangkah lebih dekat dengan kotak besar itu. Hanya sekedar untuk membawanya ke Jakarta. Dan dari situ ia mulai mempunyai segenap niat untuk membongkar barang-barang yang bertuliskan nama “Han” itu.
            “Wah banyak sekali bawaanmu.”
            Ucapan Pak Ris membuat Jun terkejut.
            “Eh… anu, Pak, mungkin barang-barang yang ada di sini terbilang sedikit,” jawab Jun dengan tertegun
            “Mungkin sisanya akan saya tinggalkan di sini saja. Toh, paling cuma 4-5 tahun di sana.” lanjut Jun.
            “Baiklah kalau begitu. Tapi yang mustahil bapak ngga bisa membawanya sendiri semuanya sekaligus…” kata Pak Ris sekaligus memberi kode mata kepada Jun.
            “Ah… iya. Mari saya bantu, pak,” sambar Jun cepat-cepat menerima baik sandi dari Pak Ris bak sersan yang mendapatkan perintah dari letnannya.
            Semua beres, pikir Jun. Hanya menghitung beberapa jam saja ia sudah kembali ke kota kelahirannya. Ia mulai dibayangi oleh pikiran-pikiran. Mulai bayangannya tentang tempat tinggalnya nanti, kegiatan yang akan dilakukannya saat di kampus, juga tentang kardus usang yang tak ia longok dari kepindahannya ke Bandung hingga ia kembali lagi ke Jakarta. Saat mobilnya mulai memasuki gerbang tol, ia pun memiliki tekad untuk membuka kardus itu sesampainya di Jakarta.

(sementara itu di tempat lain)
Jakarta, Mei 2005

            “Dadah, Hanhan.” Ujar Sami sambil membalikkan badannya.
            “Bye… Sampai nanti ya…”
            Namun Sami sudah tak terlihat lagi dari pandangannya. Bocah laki-laki mungil kesayangannya sudah masuk ke dalam gerombolan murid-murid Taman Kanak-kanak lainnya. Lantas ia pun pergi dari tempat. Kaki melangkah menuju halte bis. Dengan tenangnya ia melihat jadwal keberangkatan dan duduk di bangku halte. Sekarang ia sudah resmi menjadi mahasiswi. Dan hanya beberapa tahun lagi ia lulus. Ia tak ingin berlama-lama di Universitas. Mengingat kondisi fisiknya yang saat ini sudah ambruk.
Setelah ia lulus, ia ingin menjadi seorang presenter sekaligus menjadi penyair. Rika bilang ia akan menambahkan satu lagi mimpi Hana, dan Rika akan membantunya. Rika tak menyebutkan mimpinya itu, namun terlihat spesial baginya.
            Tibanya di kampus, Hana mondar-mandir. Mata dan kakinya terus mencari seseorang. Ketika ia sedang mencari dan mencari, di hadapannya ia menatap kepada pemuda yang juga sedang menatapnya. Kedua pasang mata bertemu. Ada kata-kata yang tak bisa keluar dari kedua mulut mereka. Hana seperti melihat déjà vu yang tak terekam secara lengkap. Ketika kakinya melangkah ke arah lain, seseorang menabrak gadis itu.
            “Aduh!”
            “Aduh! Eh maaf, yah. Lagi buru-buru nih. Ngga apa-apa, ‘kan? Haduh ceroboh banget, sih, aku ini. Err… Maaf ya .. Kamu baik-baik aja, ‘kan?”
            Laki-laki sebaya itu terus menghujani Hana dengan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya sudah ia ketahui jawabannya. Hana hanya mengangguk sekenanya. Namun, laki-laki itu tetap saja mendekat. Menawarkan kekuatannya untuk membawa beban yang dapat ia angkut di dekapan Hana. Hana tetap terdiam dan memilih untuk pergi dari tempat itu. Diliriknya pemuda yang tadi sempat bertatapan dengannya. Tetapi, sayangnya ia sudah lenyap dari pandangan. Hana melangkahkan kaki meninggalkan laki-laki yang menabraknya, juga menginggalkan hal yang membuat jantungnya berdegup kencang. Sambil berjalan ia mengetik sebuah pesan singkat kepada Rika.

To : Rika

Lu dimana? Gue cariin lu di dekat madding
ga ketemu. Kita ketemuan di kantin aja seusai mata kuliah ya. Jam 3

From : Dihana



Wednesday, January 2, 2013

buat "adinda" yang ada di sana

yus... apa kabar? :) pasti baik-baik aja. kan itu tempat yang nyaman banget deh pastinyaaa :D

oh iya, sebelumnya selamat tahun baru ya yus :D
mungkin di sana lebih rame dan lebih meriaah  ˇ)
sayangnya di sini ngga ada pos surat buat ke sana :\ dan aku kurang tau alamat kamu yang "baru" yus hehe :p padahal pengen cerita banyak yussss kalo dijadiin buku diary, udah abis 1 truck sampah yang di sekolah kamu yang dulu.
ngomong-ngomong tentang sekolah, di sana ngga ada ya? hehehe :')


eh yusss masih tau dasi kamu yang kamu pinjemin ke aku kan? masih inget janji aku ke kamu kan? aku bakal balikin kook tenang aja (ʃƪ˘˘) tapi aku pake mungkin sampe bulan mei yah... dan aku ngebalikinnya ke rumah kamu yang lama. soalnya aku sedih yus kalo ngebalikin ke rumah kamu yang "baru" pasti aku belum tentu diterima. terutama sama Mas kamu

oh iya kamu punya "Mas" baru yaah... selamaaat!! `)/

namanya kayanya gue tau nih.. Mas Ridwan kan? hihi
aku tau kok doi orangnya baiiiik banget. kamu beruntung bisa tinggal di rumah Mas kamu yang baru :) dan aku yakin kamu pastiii dilindungin banget ama dia


sampai saat ini aku ngerasa aku belom ada persiapan yus heheh .__.v tapi kalo buat MTK aku usahain ada "guru private" :p dan aku ingeet janji janji kita masuk ke UI. jangan khawatir. meski kamu udah pindah, tapi kamu bisa "nyatu" sama aku biar bisa lolos ke sana :D trus kita masuk FISIP bareng-bareng deh ;")

yus... tau ngga?... aku rasa aku sia-sia lho nulis posting yang kaya gini. ga nyampe langsung ke kamunya. tapi aku pengen kamu ada di salah satu postinganku. dan pastinya aku sangat senaaang kalo tau kamu nyaksiin langsung aku yang lagi nulis postingan ini.

yus... it seems it have been a long year...
ga percaya sama kepergian kamu yus

seratus persen kisah-kisahmu ga terdengar lagi di telingaku yus
apa karna Mas Ridwan bener-bener sayang sama kamu?
kalo itu sih ga masalah buat aku

karna emang dunia kita udah ..... beda