Hari ini kembali kupandangi buku yang sudah tertutup. Sempat berkali-kali
ku terheran dengan yang sudah kutulis di dalamnya.
Iya, ia tak kosong
Coba buka saja kenangan di dalamnya, itukan ceritamu, benakku. Tanpa
berpikir panjang kuturuti. Dan...taraaa. Masih rupawan sekali tulisannya. Membuat malu ini tersipu. Halaman terdepan berganti ke halaman-halaman
berikutnya. Jantungku berdetak, mataku sesekali terpicing.
Tak terasa lembaran-lembaran halaman sudah menumpuk. Semua tinta itu hitam. Tak menarik! Hingga pada akhirnya sampai di ujung halaman, tinta pena hitam itu menipis. Sudah lupa akan kutulis apa pada saat itu. Kabarnya, tinta pena hitam pun sudah mengering. Entah kabar dari mana.
Mungkin memang benar. Karena terlanjur lupa, kuputuskan untuk menutup kembali.
Tapi... mengapa usahaku dalam mencoba melupakan itu direlikui isak dan 'deras'? Padahal hanya buku karangan biasa..
Kata 'hanya'nya sangat kuat. Kertas ya kertas..tak bisa menjadi tisu. Tak bisa dipakai untuk menghapus dan mengelap.
Ada waktu
Ada luang
Ada kesempatan
Dan ada kelembutan yang terlihat samar..
Untuk itu, sebelum memutuskan untuk hapus dan lupakan semua yang telah tulis.....
Lebih baik kau tanya pada hati yang menjagamu
No comments:
Post a Comment