Saat Hana
sedang tak sadarkan diri, Rama, Rika, dan Taufik menjenguk Hana. Selama ini
hanya Jun yang absen menjenguk Hana. Pasti ada kejanggalan yang terjadi, pikir
mereka. Mereka bergantian berjaga malam. Sekarang saat Rama bergiliran menjaga
Hana. Ia sangat menyayangi Hana, meski Hana belum menyadari hal itu.
“Hana. Cepat sembuh ya..”
Pintu ruang inap Hana terbuka.
Tiba-tiba sesosok pemuda masuk dengan membawa buket bunga.
“Jun? Kok tumben bisa dateng?”
“Iya, lagi ngga ada kerjaan aja. Dan
gue nyempetin dateng ke sini.” ujar Jun dengan santai, “Gimana keadaannya
sekarang?”
“Sudah agak baikan.”
Jun menaruh buket bunganya ke lemari
tepat di samping Hana. Lalu ia memegang tangan Hana yang lembut. Pertama
kalinya ia memegang tangan mungil itu. Jun merasa bersalah. Ia yang membuat
Hana seperti yang sekarang ini. Jun lalu mengecup punggung tangan itu dengan
lembut dan sangat lama. Dengan lembut tangan kiri Jun mengusap dahi Hana. Wajah
Jun mendekat ke arah wajah Hana hanya sekedar untuk mengecup keningnya. Tak
lama kemudian terlihat pergerakan dari tangan Hana.
“Jun.”
Itu adalah kata pertama yang Hana
ucapkan setelah pikirannya terbangun dari masa krisis. Jun memegang tangan Hana
dengan lebih erat. Ia dan Rama tak percaya dengan apa yang terucap dari mulut
Hana sendiri.
“Apakah kau Jun?”
Perlahan mata Hana membuka. Jun
tersenyum tipis. Senyuman yang sangat dikagumi Hana kini nampak jelas terlihat.
Hana mulai sadar. Ia pun terbangun dan duduk di atas tempat tidur.
“Apa yang terjadi?” tanya Hana
seraya menatap Jun dan Rama secara bergantian.
Dengan merasa bersalah Jun
menceritakan semuanya. Termasuk unsur ketidaksengajaan perasaan dirirnya, Rama,
dan Hana. Hana memaafkan Jun dengan mudah. Karena jika ia berada di posisi Jun,
ia pasti akan memilih persahabatan daripada perasaannya sendiri. Rama pun paham
perasaan keduanya. Ia pun memilih untuk mundur dan melepaskan Hana ke tangan
Jun. Rama meninggalkan ruangan itu.
Sempat terjadi keheningan di
ruangan. Keduanya mengetahui perasaan satu sama lain. Hal ini membuat suasana
berubah menjadi canggung. Hana mencari-cari bahan omongan untuk obrolannya
dengan Jun. Tapi ia tidak menemukan topik apa-apa. Akhirnya Jun yang angkat
bicara.
“Mmm… Mengenai kondisi kardus itu,
aku mulai merapikannya.”
“Ah, sudah lama aku tak melihat
isinya.”
“Tapi aku tidak bisa memperbaiki
Bunga Clover itu,” terang Jun.
“Maaf, ya. Pasti itu gara-gara aku,
ya?”
“Sudahlah. Itu kan sudah berlalu.
Hmm.. Bagaimana kalau kita mencari bunga itu lagi?” usul Jun.
“Cari? Dimana?”
“Pokoknya kau ikut aku aja deh. Jadi
besok pagi kita keluar sebentar.”
“Oke.”
Keesokan paginya, Masih di pagi hari
buta ia meminta kepada resepsionis untuk membawa Hana jalan-jalan keluar.
Setelah mengisi surat izin membawa pasien, Jun menggendong Hana.
“Kamu aneh deh, Jun. Nyulik orang
dengan jasa gendongan begini.” sahut Hana di telinga Jun.
Jun hanya tertawa.
“Dasar ratu gembel. Sabar sedikit
dong. Kan aku juga mau ngasih kejutan gitu.”
“Wuuu… Kamu tuh ya ngga jago dalam
hal beginian, ya kan?” ditonjoknya pipi Jun dengan lembut.
“Yah ratu gembel ga cuma minus di
penampilan, hatinya juga ikutan minus. Sabar dikit kek. Ntar cepet tua lho,
ntar keburu lengser lho dari predikat ratu,” ledek Jun.
“Maksudnya apa, nih?” kali ini Hana
mencubit pipi Jun.
Aura di antara mereka kembali
seperti biasa. Bahkan lebih berwarna dibandingkan sebelumnya. Hana pun tidur
sejenak di punggung pemuda itu. Saat tertidur, Hana bermimpi, ia berada di
taman yang penuh dengan bunga. Sejauh mata memandang hanya bunga, bunga dan
bunga. Sampai akhirnya ia melihat sesosok pangeran dengan wajah yang ditutupi
oleh topeng. Mereka saling mendekat. Hana menimbang-nimbang untuk membuka
topeng itu. Lalu secercak cahaya keluar dari dalamnya.
“Udah sampe, nih. Coba lihat
sekelilingnya.”
Hana menangkap suara itu, dan
mimpinya pupus. Ia melihat di ufuk timur ada matahari yang diam-diam
menampakkan bentuknya. Sinarnya begitu lembut menyentuh wajah sang ratu. Lalu
di bawah telapak kaki Jun terhampar tanaman semanggi yang begitu hijau.
“Hana, ini adalah tempat pertama
kali kita bertemu. Waktu itu aku nemuin kamu lagi bermain di sini. Padahal
keluarga kamu sedang mencari kamu kemana-mana. Tapi hanya aku yang tau tempat
persembunyian kamu ini, karena ini tempat persembunyian aku juga.” ujar Jun
dengan begitu jelas.
“Dan kamu malah mengajakku bermain
di sini. Kamu terlihat sangat senang ketika menemukan daun semanggi berkelopak
4. Bunga Clover. Aku orang pertama yang kau perlihatkan. Lalu kita berjanji
untuk menyimpannya.” tutur Jun dengan jelas.
“Nah, sekarang sebagai gantinya aku
mencarikannya untukmu,” Jun menurunkan Hana dari gendongannya dan mencari Bunga
Clover itu. Hanya dalam waktu sebentar, ia memetik satu daun semanggi, dan
memberikannya ke telapak tangan gadis yang ia sangat sayangi itu.
“Ternyata dalam bahasa Jepang, nama
kamu dapat diartikan sebagai bunga, lho. Jadi, ini Bunga Clover untuk Bunga.”
Muka Hana memerah, “makasih Jun.”
ditatapnya Jun dengan lekat. Jun menatapnya kembali. Kali ini ia sudah
menemukan di balik tatapan itu. Ia sudah mendapatkannya. Demikian pula dengan
Jun. Wajah Jun mendekat ke arah kening Hana. Dikecupnya dahi Hana dengan
lembut. Dengan memandikan cahaya matahari pagi, tampaklah siluet mereka. Dan
juga telah mempertemukan kembali kedua insan dan juga kenangan yang tak
terkubur.