other homepage

Tuesday, January 22, 2013

Bunga Clover untuk "Bunga" part 6


Saat Hana sedang tak sadarkan diri, Rama, Rika, dan Taufik menjenguk Hana. Selama ini hanya Jun yang absen menjenguk Hana. Pasti ada kejanggalan yang terjadi, pikir mereka. Mereka bergantian berjaga malam. Sekarang saat Rama bergiliran menjaga Hana. Ia sangat menyayangi Hana, meski Hana belum menyadari hal itu.
            “Hana. Cepat sembuh ya..”
            Pintu ruang inap Hana terbuka. Tiba-tiba sesosok pemuda masuk dengan membawa buket bunga.
            “Jun? Kok tumben bisa dateng?”
            “Iya, lagi ngga ada kerjaan aja. Dan gue nyempetin dateng ke sini.” ujar Jun dengan santai, “Gimana keadaannya sekarang?”
            “Sudah agak baikan.”
            Jun menaruh buket bunganya ke lemari tepat di samping Hana. Lalu ia memegang tangan Hana yang lembut. Pertama kalinya ia memegang tangan mungil itu. Jun merasa bersalah. Ia yang membuat Hana seperti yang sekarang ini. Jun lalu mengecup punggung tangan itu dengan lembut dan sangat lama. Dengan lembut tangan kiri Jun mengusap dahi Hana. Wajah Jun mendekat ke arah wajah Hana hanya sekedar untuk mengecup keningnya. Tak lama kemudian terlihat pergerakan dari tangan Hana.
            “Jun.”
            Itu adalah kata pertama yang Hana ucapkan setelah pikirannya terbangun dari masa krisis. Jun memegang tangan Hana dengan lebih erat. Ia dan Rama tak percaya dengan apa yang terucap dari mulut Hana sendiri.
            “Apakah kau Jun?”
            Perlahan mata Hana membuka. Jun tersenyum tipis. Senyuman yang sangat dikagumi Hana kini nampak jelas terlihat. Hana mulai sadar. Ia pun terbangun dan duduk di atas tempat tidur.
            “Apa yang terjadi?” tanya Hana seraya menatap Jun dan Rama secara bergantian.
            Dengan merasa bersalah Jun menceritakan semuanya. Termasuk unsur ketidaksengajaan perasaan dirirnya, Rama, dan Hana. Hana memaafkan Jun dengan mudah. Karena jika ia berada di posisi Jun, ia pasti akan memilih persahabatan daripada perasaannya sendiri. Rama pun paham perasaan keduanya. Ia pun memilih untuk mundur dan melepaskan Hana ke tangan Jun. Rama meninggalkan ruangan itu.
            Sempat terjadi keheningan di ruangan. Keduanya mengetahui perasaan satu sama lain. Hal ini membuat suasana berubah menjadi canggung. Hana mencari-cari bahan omongan untuk obrolannya dengan Jun. Tapi ia tidak menemukan topik apa-apa. Akhirnya Jun yang angkat bicara.
            “Mmm… Mengenai kondisi kardus itu, aku mulai merapikannya.”
            “Ah, sudah lama aku tak melihat isinya.”
            “Tapi aku tidak bisa memperbaiki Bunga Clover itu,” terang Jun.
            “Maaf, ya. Pasti itu gara-gara aku, ya?”
            “Sudahlah. Itu kan sudah berlalu. Hmm.. Bagaimana kalau kita mencari bunga itu lagi?” usul Jun.
            “Cari? Dimana?”
            “Pokoknya kau ikut aku aja deh. Jadi besok pagi kita keluar sebentar.”
            “Oke.”
           
            Keesokan paginya, Masih di pagi hari buta ia meminta kepada resepsionis untuk membawa Hana jalan-jalan keluar. Setelah mengisi surat izin membawa pasien, Jun menggendong Hana.
            “Kamu aneh deh, Jun. Nyulik orang dengan jasa gendongan begini.” sahut Hana di telinga Jun.
            Jun hanya tertawa.
            “Dasar ratu gembel. Sabar sedikit dong. Kan aku juga mau ngasih kejutan gitu.”
            “Wuuu… Kamu tuh ya ngga jago dalam hal beginian, ya kan?” ditonjoknya pipi Jun dengan lembut.
            “Yah ratu gembel ga cuma minus di penampilan, hatinya juga ikutan minus. Sabar dikit kek. Ntar cepet tua lho, ntar keburu lengser lho dari predikat ratu,” ledek Jun.
            “Maksudnya apa, nih?” kali ini Hana mencubit pipi Jun.
            Aura di antara mereka kembali seperti biasa. Bahkan lebih berwarna dibandingkan sebelumnya. Hana pun tidur sejenak di punggung pemuda itu. Saat tertidur, Hana bermimpi, ia berada di taman yang penuh dengan bunga. Sejauh mata memandang hanya bunga, bunga dan bunga. Sampai akhirnya ia melihat sesosok pangeran dengan wajah yang ditutupi oleh topeng. Mereka saling mendekat. Hana menimbang-nimbang untuk membuka topeng itu. Lalu secercak cahaya keluar dari dalamnya.
            “Udah sampe, nih. Coba lihat sekelilingnya.”
            Hana menangkap suara itu, dan mimpinya pupus. Ia melihat di ufuk timur ada matahari yang diam-diam menampakkan bentuknya. Sinarnya begitu lembut menyentuh wajah sang ratu. Lalu di bawah telapak kaki Jun terhampar tanaman semanggi yang begitu hijau.
            “Hana, ini adalah tempat pertama kali kita bertemu. Waktu itu aku nemuin kamu lagi bermain di sini. Padahal keluarga kamu sedang mencari kamu kemana-mana. Tapi hanya aku yang tau tempat persembunyian kamu ini, karena ini tempat persembunyian aku juga.” ujar Jun dengan begitu jelas.
            “Dan kamu malah mengajakku bermain di sini. Kamu terlihat sangat senang ketika menemukan daun semanggi berkelopak 4. Bunga Clover. Aku orang pertama yang kau perlihatkan. Lalu kita berjanji untuk menyimpannya.” tutur Jun dengan jelas.
            “Nah, sekarang sebagai gantinya aku mencarikannya untukmu,” Jun menurunkan Hana dari gendongannya dan mencari Bunga Clover itu. Hanya dalam waktu sebentar, ia memetik satu daun semanggi, dan memberikannya ke telapak tangan gadis yang ia sangat sayangi itu.
            “Ternyata dalam bahasa Jepang, nama kamu dapat diartikan sebagai bunga, lho. Jadi, ini Bunga Clover untuk Bunga.”
            Muka Hana memerah, “makasih Jun.” ditatapnya Jun dengan lekat. Jun menatapnya kembali. Kali ini ia sudah menemukan di balik tatapan itu. Ia sudah mendapatkannya. Demikian pula dengan Jun. Wajah Jun mendekat ke arah kening Hana. Dikecupnya dahi Hana dengan lembut. Dengan memandikan cahaya matahari pagi, tampaklah siluet mereka. Dan juga telah mempertemukan kembali kedua insan dan juga kenangan yang tak terkubur.

Bunga Clover untuk "Bunga" part 5


Di antara 4 sekawan yang lainnya, Rikalah yang paling mengetahui jarak yang merenggang antara Hana dan Jun. Seusai menemani Taufik seminar di kampus, Rika mempercepat langkahnya kea rah rumah Hana.

“Hai, Han! Boleh masuk?”

“Monggo, mbak.”

Rika ingin meluruskan kerenggangan jarak antara Jun dan Hana. Ia masuk ke dalam kamar Hana yang terbilang ‘unik’. Seperti biasa, tanpa berbasa-basi terlebih dahulu, Rika mengatakan dengan to the point.

“Han, ada yang perlu gue sampein ke elo. Lu tau kan gue pernah punya janji sama lu tentang 1 tambahan mimpi lu itu?”

“Iya inget. Itu tentang apa, Rik? Awas aja kalau ngomongnya ngawur,” ejek Hana.

“Yeee dasar ratu gembel. Engga bakalan lah. Makanya dengerin orang ngomong dulu kenapa, sih~”

“Hehehe…. Iya iya. Apa tuh, Rik?” ledek Hana yang dilanjutkan dengan menanyakannya dengan serius.

“Lu tau ngga pas waktu lu kecil lu pernah kecelakaan?”

“Duh, ngga inget, Rik. Kan lu yang ngeliat langsung. Gue sih ngga inget apa-apa.”

“Gini,” kata Rika memulai ceritanya.

“Dulu itu, lu orangnya ngga bisa diem banget. Paling pecicilan dibanding yang lain. Tapi ada satu cowok yang akrab banget sama lu. Lu tau ngga dia itu siapa?”

Hana menggelengkan kepalanya.

“Nama cowoknya itu Auzan Nur Hifzun, alias Jun.”

Hana ternganga, “kok bisa??”

“Jadi, lu dulu akrab banget sama dia. Sampe pas main pengantin-pengantinan kalian berdua menjadi sepasang pengantinnya. Dan kalian pun sering surat-menyurat padahal jendela kamar kalian bersebelahan. Waktu kalian nyari bunga Clover juga gitu. Kalian nyari bareng-bareng. Udah gitu nyimpen bunganya di kotak besi. Pokoknya kalian bener-bener aneh, deh. Dan kalian pun berniat membuat harta karun bersama, dan bunga itu salah satu harta karunnya.”

Hana menelan ludahnya. Setengah tidak percaya cerita dari Rika.

“Kemudian peristiwa yang ngga diinginkan terjadi,” lanjut Rika dengan nada suara yang lebih tegang, “lu jatuh dari atas pohon, dan lu koma selama 2 tahun. Ini juga membuat lu kehilangan semua ingatan lu. Lu ngga inget nama lu sendiri, Jun, gue, dan bahkan keluarga lu sendiri. Dan akhirnya ketika Jun pindah keluar kota, nyokap lu ngasih Jun harta karun kalian berdua. Dan ada kemungkinan Jun masih menyimpan harta karun itu.”

Cerita dari Rika mengiang-ngiang di benaknya. Sudah 2 tahun semenjak kembali bertemunya ia dengan Jun, baru kali ini ia mengetahui semua rahasianya. Dan ia merasa bersalah tak menanyakannya pada Jun. Dengan cepat Hana menergap jaketnya dan pergi untuk menemui Jun. Rika memanggil-manggil namanya di belakang, tapi ia tak memerdulikannya.

Saat berjumpa dengan Jun, Jun sedikit memalingkan wajahnya.

            “Aku mau masuk ke kamar kamu sekarang.”

            Dengan spontan Jun menoleh ke arah Hana.

            “Kamu.. mau ngapain?”

            Belum sempat Jun selesai bertanya-tanya, Hana sudah memasuki rumah Jun.

            “Hey, kamu mau ngapain, Han? Hana tunggu dulu. Hana!”

            Namun kaki Hana tetap melangkahkan ke arah kamar Jun. Setelah dibukanya pintu, ia mulai mencari-cari sebuah kotak yang diperkirakan bisa memuat surat-surat, bunga Clover, dan bukti-bukti lainnya.

            “Kamu ngapain, Han?! Semua itu barang-barangku!” ucapan Jun mulai menggertak

            Hana pun bangkit berdiri. Saat membalikkan badannya, kedua tangannya memegang sesuatu yang besar.

            “Kecuali barang-barang yang ada di sini kan?”

            Jun pun mengelak. Ia terkejut saat Hana menemukan barang-barangnya kembali. Ia merasa ia mendapatkan batin. Lalu ia terdiam. Ia kini  ingat benar kejadian masa lalunya. Ingat teringat masa kecilnya dulu dengan Hana, Termasuk peristiwa buruk yang dialami Hana.

            “Kenapa kamu memalingkan wajah kamu? Apa yang menjadi penyebab kamu melakukan itu? Dan mengapa kamu masih menyimpan ini semua Jun?  Kenapa?” nada suara Hana terisak.

            Jun tak menjawab. Ia rasa sudah waktunya ia mengakhirinya. Ia akan jujur kepada Hana mulai detik itu.

            “Terus terang aku ingin membuang semua barang itu,” jawab Jun seraya menatap mata Hana dengan pandangan kosong, namun sangat mengiris hati.

            “Aku memang akrab denganmu. Aku sangat senang ketika berada di dekat kamu. Tapi itu dulu, sebelum kamu mengalami kecelakaan dan akhirnya membuat kamu lupa semuanya termasuk aku dan kenangan bersamaku. Dan kamu yang sekarang tidak ingat dengan semua kebahagiaan yang aku dapat dahulu. Kamu sangat berbeda.” ujar Jun dengan sangat jelas dan sekaligus sangat menyakitkan.

            Tanpa terasa air mata menjalari pipi Hana. Ia tak menyangka kata-kata itu terucap begitu saja dari mulut Jun sendiri. Dan kini perasaannya pedih. Tetesan-tetesan itu semakin deras. Dengan penuh keberanian ia bertanya lagi.

            “Lantas, kenapa kamu tidak mengungkapkannya? Kenapa kamu tidak menjelaskan semua masa lalu? Dengan begitu kita bisa membangun kembali kebahagiaan itu.”

            “Kurasa masa lalu adalah masa lalu. Kita semua tumbuh dan berkembang. Dan kurasa kebahagiaan kita hanyalah kenangan belaka,” kata-kata itu sangat menusuk perasaan Hana, “kamu lebih cocok bersanding dengan Rama.”

            “Rama? Apa semua ini karena Rama?”

            “Tidak. Karena memang benar begitu kenyataannya. Kamu lebih senang jika berada di dekatnya.”

            “Apakah....,” kepala Hana tertunduk saat mulai menanyakannya, “apakah kamu lebih menyukai aku yang dahulu dibandingkan dengan yang sekarang.”

            “Perlukah aku menjelaskannya kembali?” jawab Jun dengan tatapan yang lebih menakutkan dari biasanya.

            Hana memilih untuk pergi dari tempat itu. Dibantingnya kardus itu dan ia berlari menuju rumahnya. Bunga Clover yang sudah mengering itu hancur tak terbentuk lagi. Seperti halnya bunga Clover itu, hati Hana remuk berkeping-keping. Dan ketika sampai di dalam rumah, jantungnya terasa sakit. Hana pun terbaring tak sadarkan diri.

Bunga Clover untuk "Bunga" part 4


“Eh, kita karaokean gimana? Sampe larut lah... mumpung besok kita libur, nih. Setuju?”

“Boleh boleh, tuh. Yuk?” Hana mengiyakan sambil mengajukan konfirmasi ke Jun.

Challenge accepted!” jawab Jun dengan mantab.

Malam itu mereka merasakan betapa hebatnya dunia ciptaan Tuhan. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin Jun tunjukkan ke Hana. Tapi hal itu ia urungkan sampai ia mendapatkan bukti yang lebih kuat lagi. Baginya, malam ini sudah cukup membuatnya mendebarkan, berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Dan ia akan selalu ingat kejadian malam ini, dan juga pandangan ia lihat pada malam ini.



Cek kesehatan setiap minggu siang adalah jadwal rutin Hana sekarang. Menjelang memasuki universitas ia rajin pergi ke puskesmas terdekat untuk sekedar memeriksa kesehatannya. Terakhir kali ia mendapatkan kabar dari dokter pribadinya bahwa ia menderita penyakit jantung koroner. Sedikit shock memang mendengarkannya, tapi ia yakin ia bisa mengatasinya. Perjalanan menuju puskesmas tak begitu jauh. Yakni dengan menempuh kurang lebih 150 meter Hana sudah bisa melakukan pemeriksaan. Sesampainya, Hana mengisi daftar tamu di resepsionis dan melesat ke ruangan dokter pribadinya itu.

“Bagaimana keadaannya sekarang, dok?” Tanya Hana dengan hati-hati.

“Sudah cukup membaik dibandingkan 2 minggu sebelumnya. Tapi perlu diingat ya Hana, kamu sekarang sudah menjadi mahasiswi, dan kamu harus mengurangi kegiatan-kegiatan khususnya kegiatan di malam hari. Dan jangan lupa sering minum vitamin sehari sekali serta biasakan berolahraga pada pagi hari.”

Hana pun pamit dari hadapan dokter. Ia menyadari benar kondisi fisiknya sekarang. Ia sudah lemah. Tak sekuat dahulu. Rahasia mengenai penyakitnya hanya diketahui oleh Rika. Bahkan ia tidak menceritakannya kepada keluarganya sendiri. Cukup Rika saja yang tahu. Ia pun pergi ke pasar guna membeli jeruk, wortel, dan vitamin-vitamin sesuai anjuran dokternya.



Matahari masuk melalui sela-sela gordyn kamar Taufik. Kamarnya cukup berantakan. Jun-lah yang bangun pertama kali dan mulai membenahi sisa-sisa pesta kemarin malam. Kebangunannya disusul oleh Taufik. Lalu kemudian Rama.

“Eh, ternyata udah ada yang lebih rajin daripada gue ya. Sebentar gue ambil serokan sama sapu,” Taufik berjalan keluar kamar.

Rama membantu Jun membuang sampah-sampah yang berserakan.

“Lu tertarik ya sama Hana?” tanya Rama pada akhirnya. Hal ini membuat Jun kehilangan kata-kata.

“Maksudnya?” Jun membalikkan pertanyaan.

“Udah gue tau kok lu lagi suka kan sama dia? Ngaku aja deh.” kata Rama dengan nada sedikit serius.

Jun tidak langsung menjawabnya. Ia menimbang-nimbang maksud pertanyaan itu lalu mulai menjawab.

“Engga,” jawab Jun pada akhirnya. Mendengar jawaban Jun, Rama menatap Jun lekat-lekat.

“Asal lu tau aja Jun, gue lagi jatuh cinta sama…….sama Hana,” Rama tak kalah berargumen.

Jun tercengang, ”jadi lu suka sama dia?”

“Iya,” jawab Rama dengan yakin.

“Tapi gue ga suka ketika melihat lu deket-deket sama dia,” lanjut Rama.

Jun menundukkan kepala. Menyesal atas jawabannya. Kini ia tak tahu harus berbuat apa. Ia jatuh cinta kepada Hana, tapi ia juga tidak tega melihat kawannya terluka karenanya. Posisinya sedang terjepit. Ia bingung antara ingin memiliki orang ia cintai atau melihat sahabatnya bergandengan dengan orang yang dicintainya. Kalau saja ada keajaiban, ia tak ingin berada di sini. Lebih baik ia meninggal daripada harus memilih pilihan yang tak bisa ia pilih.

“Jun? Are you okay?” tanya Rama.

Yeah, I’m fine. Hanya lupa sesuatu aja. Tadi lu bilang lu suka sama dia, ya? Wah, gue dukung banget deh.”

“Lu yakin gue sama dia bakalan cocok?”

Sure! Yakin seratus persen deh!”

“Oke, do’ain gue ya.”

“Yup!”

Kata-kata itu keluar dengan nada yang berat. Kata-kata yang menyebabkan terdapat lubang di hatinya. Ia merasa paling bodoh dan bersalah kepada dirinya sendiri. Namun, ia sudah terlanjur menyetujui hubungan Rama dengan Hana. Ia tak bisa menarik kembali ucapannya maupun orang yang dicintainya. Tuhan, jika ada satu kekuatan, mungkin dalam sekejap perasaan itu akan ia hapus. Tapi, ternyata Tuhan berkehendak lain.

Keputusannya itu malah membuat Jun semakin sakit hati. Mereka nampak akrab dan dijuluki Romeo-Juliet di kampus. Jun pun sering menghindar dari hadapan mereka. Meski ia tahu ia salah, tapi ia pikir itulah jalan satu-satunya agar membuat ia akan lupa terhadap perasaanya. But it is hard to make it fades away. Dan dengan cara menghindarlah Jun akhirnya perlahan melepas segenap rasa cinta itu.

Bunga Cover untuk "Bunga" part 3


Jun turut membantu mempersiapkan untuk pesta. Ini adalah ide Taufik. Rama merapikan ruangan. Sementara Jun memasak dan mengatur microphone untuk berkaraoke nanti. Waktu satu setengah jam digunakan dengan baik oleh 3 sekawan baru ini. Sambil beristirahat sejenak, Taufik menelpon Rika. Tapi ternyata terjadi masalah. Motor Rika mogok dan ia memerlukan bantuan dari Taufik.

Taufik pun dengan cepat menyambar kunci motornya. Ia tidak bisa meninggalkan temannya dalam bencana, terutama terhadap Rika. Ia berpamitan dengan Jun dan Rama kemudian.

“Gue cabut bentar ya, nanti gue pengen service motor Rika. Sebagai gantinya mereka make motor gue buat ke sini lagi.”

Okay roger! Hati-hati ya,” timpal Rama.

“Oke.”

Taufik pun berangkat. Ia adalah pengendara yang hadal nan lincah. Jadi hanya dalam 5 menit ia sudah sampai di tempat Hana berada. Dengan segera ia membawa service motor Rika, dan memerintahkan Rika untuk ke rumahnya. Dengan kompak mereka berpisah dari tempat itu. Dalam waktu 15 menit, Rika berhasil membawa Hana ke rumah Taufik. Di depan rumahnya, Rama dan Jun sudah siap menyambut mereka dengan gembira. Begitu juga Rika, yang suatu saat nanti akan membocorkan mimpi Hana selama ini.

Hana terkejut melihat sosok yang berada di depannya sekarang. Mata yang tak pernah ia lupakan sedari pagi. Ia hanya bisa menunduk. Takut akan rona merah di pipinya terlihat.

“Eh kenalin nih. Temen karib gue. Namaya Dihana, tapi panggil aja dia Hana.”

“Hana,” ulang Hana sambil membungkukkan badannya, namun kepalanya tetap menunduk.

Hana? Adakah hubungannya dengan Han? Kalau saja iya, apakah benar ia yang menjadi tokoh yang aku cari selama pekan ini? Pertanyaan-pertanyaannya Jun belum terpecahkan. Malah yang terjadi semakin kompleks.

“Han, kenalin ini Rama dan yang ini …”

“Jun,” lanjut Jun.

Nama itu terngiang-ngiang di telinga Hana. Seperti pernah mendengar nama itu, pikirnya. Kepalanya yang semula tertunduk, perlahan-lahan mulai mengarahkan ke depan. Maka ia melihat wajah itu kedua kalinya untuk hari ini. Rika nampak begitu senang melihat keduanya bersitatap. Seolah-olah ia adalah Tuhan yang sudah memprediksikan situasi seperti ini.

“Oh, kamu Hana? Maafin aku ya soal yang tadi pagi..” sambar Rama.

“Iya, ngga apa-apa, kok. Lagian salah aku juga udah bengong.”

Bengong? Tanya Jun di dalam hati. Bukankah aku dan dengannya bertatapan satu sama lain? Apakah mungkin ia melupakannya? Ataukah ia tak ingin mengingat-ingat kejadian itu sekarang? Pertanyaan-pertanyaan menghantui pikirannya kembali.



(selang beberapa menit kemudian)

Rika menawarkan potongan-potongan kue kepada 4 kawannya. Semuanya bercanda di ruangan yang terlihat mewah itu. Rama bercengkrama dengan Hana. Pemandangan ini membuat Jun terasa sedikit cemburu. Padahal ia baru saja bertemu. Ada rasa yang tak biasa kini. Sepertinya ia sudah jatuh cinta pada pandangan yang pertama dengan Hana. Jun pergi ke tempat prasmanan untuk mengambil segelas air jeruk. Diteguknya air jeruk dan membiarkan sari jeruknya melewati kerongkongannya.

Ingin pulang rasanya dari sini. Dengan melihat begitu, sudah membuat hatinya hancur berantakan. Herannya ia baru bertemu dengan gadis mungil yang satu itu, dan ia baru berkenalan sekitar 2 jam yang lalu. Bahkan Jun pun tak ingat wajah-wajah seperti Hana. Tetapi ia merasa dirinya sudah jatuh terlalu dalam ke dalam jurang.

Hana dengan lincah datang ke meja prasmanan pula. Diambilnya 2 potong kue sekaligus dan memakannya. Jun memperhatikannya. Ada cream yang tersisa di bibir Hana, dan Hana sendiri tak menyadari itu. Melihat tingkah laku gadis mungil yang unik itu, Jun pun tertawa. Dengan terheran-heran, Hana kebingungan karena Jun. Tapi yang terjadi Hana juga ikut turut tertawa.

“Lho, kok ikut tertawa?”

“Abisnya kamu tertawa, kupikir ada yang lucu. Ya sudah aku ikut tertawa juga. Hehehe,” jawab Hana sejadinya.

“Ahahahaha… kamu kok lucu banget, sih.” Jun pun mengambil selembar tisu dan mulai menyeka noda cream di mulut Hana.

Mau tak mau mata mereka kembali bersitatap. Hana merasakan ketenangan di sana. Ia ingin memandang mata itu jauh lebih lama. Jauh lebih dari sekedar hanya tatapan. Hana ingin mengenal tatapan itu lebih lama. Jun pun jadi lebih tau bahwa mata Hana berwarna coklat tua. Tak ada alasan baginya untuk terus menatap mata gadis yang ada di depannya sekarang. Seolah-olah jarak di antara mereka semakin mengecil. Begitu pula dengan jarak kedua pasang mata itu.

Hana pun menyadari bahwa terjadi perubahan aura di sekelilingnya. Dan ia berusaha memalingkan wajahnya. Jun pun berpikiran demikian. Suasana pun berubah menjadi canggung. Mereka kehilangan kata-kata. Melihat situasi yang tak mengenakan, Rama mendekat kepada keduanya.

Bunga Clover untuk "Bunga" part 2


(sementara itu saat jam istirahat dimulai)
            Jun mengambil satu porsi paket ayam bakar. Ia membutuhkan banyak tenaga hari ini. Semalaman ia tidak tidur pulas. Ini sudah hari ke 7 ia memikirkan isi dari kotak coklat itu. Sekarang ia tahu isi dari kotak usang itu. Bukan hanya sekedar kotak usang. Di dalam kotak itu hanya berisikan surat-surat usang yang tak lagi bisa dibaca, boneka-boneka usang, kertas-kertas usang, dan satu kotak besi tua. Di dalam kotak besi itu terdapat satu lembar daun semanggi berkelopak empat.
            Hingga saat ini Jun tak mengingat persis tokoh “Han”. Surat-surat dan kertas-kertas tidak bisa dijadikan petunjuk untuknya. Kalau saja ia bertemu dengan seseorang yang bernama “Han”, ia pasti menunjukkan setumpuk barang-barang kuno itu hingga dapat tersusun menjadi kardus kepadanya. Sambil memikirkannya, ia menyantap ayam bakar pesanannya. Entah apa yang akan ia lakukan nanti. Sama sekali tak ada titik terang.
Saat mengunyah ayamnya, Jun pun teringat akan sosok gadis yang ia amati tadi pagi. Nampak begitu semangat membaca artikel-artikel di madding. Gadis mungil itu terlihat periang. Rambutnya melewati bahu. Memakai baju lengan panjang dan celana jeans. Tak lama kemudian ia terlihat seperti sedang mencari orang bak beradu acting dengan serigala pemangsa. Lalu kedua mata mereka bertemu. Mata yang sudah diperkirakan memiliki warna coklat itu menatapnya.
“Woy, bengong aja!”
Lamunan Jun pecah. Kini kenalannya duduk dihadapannya. Menyantap menu nasi goreng favoritnya.
“Ngga, kenyang apa, Pik, makan nasi goreng doang?” tanya Jun.
Jun hanya menggelengkan kepalanya sedikit, lalu melanjutkan makan.
“Rama! Gabung ke sini, yuk!” sahut Taufik kepada yang lain.
Orang yang dipanggil namanya tersebut menengok .Dia mengubah arah kakinya. Menuju ke tempat Taufik berada.
Sorry ngerepotin. Ngga apa-apa, ‘kan?”
It’s okay, guys. Udah makan aja.”
Jun berpikir sebentar. Dia yang menabrak gadis itu, katanya di dalam hati. Lalu Jun melanjutkan makannya kembali.
“Oh iya. Kenalin, Ram. Dia Jun. Dateng dari Bandung.”
“Kenalin gue Rama. Masuk fakultas sastra Rusia di sini. Lu?”
“Gue Jun. Masuk akuntansi,” jawab singkat Jun seraya menyambut tangan Rama.
“Gue rasa nanti kita bakal ngalamin kejadian keren,” sambar Taufik yang tidak nyambung. Jun dan Rama pun terheran-heran ‘imajinasi baru’ dari Taufik ini.
“Ha? Apaan sih lu , Pik? Ngga jelas.” protes Rama.
“Ngaco aja nih, Opik. Tapi gue aminin deh,” tutur Jun.
“Nah, bagus!” mata Taufik tampak berbinar-binar.
Namun bagi Jun, ia merasakan yang tak mengenakan. Pasti akan terjadi sesuatu nanti. Entah itu akan datang seseorang yang bernama Han. Entah juga ada keajaiban perkenalannya dengan Rama dan Taufik. Atau mungkin dengan gadis yang mencuri perhatiannya itu. Yang jelas Jun tak mau terlalu memikirkannya sekarang. Ia harus kembali ke kelas dan menyantap pelajaran perusahaan dagang nanti di kelas.

Di kantin sepulang mata kuliah, Rika melihat-lihat kontak yang ada di telepon genggamnya. Layarnya berhenti pada sebuah kontak nama. Ia menekan tombol call. Terdengar nada sambung. Begitu lama ia mendengarkan nada sambung itu. Dan tak lama kemudian terdengar suara yang sudah lama ia kenal.
“Hallo..” jawab si penerima telepon
“Lu dimana?”
“Gue sebentar lagi sampe kok.”
“Berapa jam kira-kira?”
“Hahaha… Sebentar doang kok. Ngga nyampe 30 menit.”
“Oh, iya deh. Cepet ya.”
“Oke sip,” jawab Hana mantab.
Setelah menutup telepon, Hana dengan sigap merapikan semua catatan-catatan tugas dari dosen. Cukup mengherankan memang. Mahasiswi yang baru masuk mata kuliah sudah diberi catatan-catatan seperti tipe-tipe gaya berbicara, point-point yang digunakan dalam menyampaikan informasi, dan lain sebagainya. Hana tetap optimis dan akan selalu optimis. Ia yakin bukan hanya ilmu yang akan ia dapatkan, tapi juga cita yang ia idam-idamkan.
Tasnya sudah siap dikenakannya. Ia keluar kelas dan mengarahkan pandangan, badannya, serta kakinya menuju kantin. Setibanya, pandangannya langsung tertuju pada temannya. Tanpa ragu, ia mulai mendekati Rika. Mukanya yang semula murung akibat catatan-catatan yang seperti pidato Adolf Hitler, berubah seketika menjadi periang.
Mendengar ada suara langkah kaki yang mendekat, Rika menoleh. Terlihat gadis sebaya tersenyum mendekat, lalu duduk di hadapannya. Kemudian Hana memulai pembicaraan.
“Udah lama?” tanyanya dengan ekstra hati-hati. Kini ia hanya bisa memelas.
“Banget. Hampir seabad kali gue di sini.” Nadanya terlihat sedikit kesal.
“Maaf. Tadi dosennya benar-benar sadis. Ngasih catatan setumpuk. Udah gitu…” belum sempat melanjutkan kata-katanya, Rika sudah menyambar duluan.
“Iya, gue paham kok. Tenang aja. Tapi lainkali kasih kabar dong. Jangan biarin gue ngitungin bulu tangan gini.”
“Hahaha… Iya kok, Rik.”
Warna di wajah Hana tiba-tiba berubah menjadi cerah. Ia pun bersumpah untuk menepati janjinya itu.
“Ngomong-ngomong ke rumah Taufik yuk? Partying,” ajak Rika.
Party buat?” tanya Hana.
“Yah.. semacam pesta kecil-kecilan gitu deh. Yang ikut juga cuman 5 orang. Buat ngerayain masuknya kita di kampus ini,” jelas Rika.
“Hmm… Boleh deh. Sekarang?”
“2 jam lagi kita berangkat.”
“Oke kalau begitu.”