“Seven Deadly Sins
Wealth without work
Pleasure without conscience
Science without humanity
Knowledge without character
Politics without principle
Commerce without morality
Worship without sacrifice.”
― Mahatma Gandhi
Saturday, June 1, 2013
your destiny
“Your beliefs become your thoughts,
Your thoughts become your words,
Your words become your actions,
Your actions become your habits,
Your habits become your values,
Your values become your destiny.”
― Mahatma Gandhi
Your thoughts become your words,
Your words become your actions,
Your actions become your habits,
Your habits become your values,
Your values become your destiny.”
― Mahatma Gandhi
Wednesday, April 17, 2013
"Dia"
Dia seperti pelangi yang indah dipandang namun sulit disentuh
Dia seperti kupu-kupu yang indah dilihat namun sulit ditangkap
Dia seperti ombak yang indah didengar namun sulit diartikan
Dia bagaikan embun di pagi hari namun menyesakkan hati
Dia bagaikan sinar fajar yang cahayanya tak bisa tertangkap dan kurekam di belenggu
Dia bagaikan mutiara di dalam kerang namun keberadaannya tak kunjung ditemukan umat manusia
Dia... yang datang bagai angin... yang selalu membelai rambut... tapi keberadaannya tak terlihat
Dia seperti kupu-kupu yang indah dilihat namun sulit ditangkap
Dia seperti ombak yang indah didengar namun sulit diartikan
Dia bagaikan embun di pagi hari namun menyesakkan hati
Dia bagaikan sinar fajar yang cahayanya tak bisa tertangkap dan kurekam di belenggu
Dia bagaikan mutiara di dalam kerang namun keberadaannya tak kunjung ditemukan umat manusia
Dia... yang datang bagai angin... yang selalu membelai rambut... tapi keberadaannya tak terlihat
Thursday, February 28, 2013
semuanya
hai sang pujangga malam,
taklukanku dengan kata-katamu yang selalu menyihirku
sisipkanlah bait-bait yang dapat memabukanku itu
lantunkanlah dan perdengarkanlah aku pada setiap
nyanyian rembulan itu..bersamamu
taklukanku dengan kata-katamu yang selalu menyihirku
sisipkanlah bait-bait yang dapat memabukanku itu
lantunkanlah dan perdengarkanlah aku pada setiap
nyanyian rembulan itu..bersamamu
Saturday, February 16, 2013
teruntuk pujangga
biarkan semilir angin menyela di antara helaian rambutmu, bentangan awan menutupi pundakmu, tegarnya tanah menopang massa tubuhmu...dan biarkan aku menjadi jeritan hatimu selama ini
|
Wednesday, February 6, 2013
Hoshizora by L'Arc~en~Ciel (Indonesian version)
Yurameku kagerou wa yume no ato
(Udara yang panas berkilauan tetaplah sebuah mimpi)
Yami wo osorete nemuri yuku machi
(Kota yang takut pada kegelapan itu kini pergi tidur)
Chiisana yorokobi wa gareki no ue
(Kebahagiaan kecil diatas puing)
Hoshi wo miru boku wa doko de umareta
(Aku lahir disini, yang melihat bintang-bintang)
Nobody knows, nobody cares
I have lost everything to bombs
Nee azayakana yume miru sekai e to (Ya, dengan lembut memimpikan dunia)
Mezametara kawatte iru to yoi na (Jika aku terbangun dan segalanya telah berganti, itu akan baik-baik saja.)
Madobe ni hatte aru kimi no machi
(Kotamu terlihat dari jendela)
Soko wa dore kurai tooku ni aru no?
(Dimana, seberapa jauhkah itu?)
Nobody knows, nobody cares
They just took everything I had.
Nee odayakana egao no kimi ga iru (Ya, senyum yang lembut itu, kau berada disisiku)
Shashin no naka kakedashite yukitaina (Aku hanya ingin pergi dan berlari dengan bebas di foto itu)
Nobody knows nobody cares
I have lost everything to bombs
Nobody knows, nobody cares, don't say good bye
Nee, furisosogu yozoraga kirei dayo (Hey, melebur bersama langit malam pasti indah.)
Itsu no hika kimi ni mo misetai kara (Karna aku ingin menunjukanmu itu suatu hari)
Megasama nara kawatte iru to iina (Jika kita terbangun dan segalanya telah berubah, maka itu akan baik-baik saja)
Arasoi no owatta sekai e to (Menuju dunia dimana konflik telah berakhir)
(Udara yang panas berkilauan tetaplah sebuah mimpi)
Yami wo osorete nemuri yuku machi
(Kota yang takut pada kegelapan itu kini pergi tidur)
Chiisana yorokobi wa gareki no ue
(Kebahagiaan kecil diatas puing)
Hoshi wo miru boku wa doko de umareta
(Aku lahir disini, yang melihat bintang-bintang)
Nobody knows, nobody cares
I have lost everything to bombs
Nee azayakana yume miru sekai e to (Ya, dengan lembut memimpikan dunia)
Mezametara kawatte iru to yoi na (Jika aku terbangun dan segalanya telah berganti, itu akan baik-baik saja.)
Madobe ni hatte aru kimi no machi
(Kotamu terlihat dari jendela)
Soko wa dore kurai tooku ni aru no?
(Dimana, seberapa jauhkah itu?)
Nobody knows, nobody cares
They just took everything I had.
Nee odayakana egao no kimi ga iru (Ya, senyum yang lembut itu, kau berada disisiku)
Shashin no naka kakedashite yukitaina (Aku hanya ingin pergi dan berlari dengan bebas di foto itu)
Nobody knows nobody cares
I have lost everything to bombs
Nobody knows, nobody cares, don't say good bye
Nee, furisosogu yozoraga kirei dayo (Hey, melebur bersama langit malam pasti indah.)
Itsu no hika kimi ni mo misetai kara (Karna aku ingin menunjukanmu itu suatu hari)
Megasama nara kawatte iru to iina (Jika kita terbangun dan segalanya telah berubah, maka itu akan baik-baik saja)
Arasoi no owatta sekai e to (Menuju dunia dimana konflik telah berakhir)
Saturday, February 2, 2013
Apa Kabar?
Semuanya sudah tahu. Tak ada yang perlu diceritakan. Ini mengisahkan sebuah pesawat kertas yang sudah lama dilipat dan mengharapkan terbang. Berjalan di bawah jembatan, ia mendapatkan pemandangan yang asing. Seorang anak kecil dengan ingus di bawah lubang hidungnya berlari sambil membawa layang-layang uniknya. Dan tertawa. Sesekali ia mengecek ke sekelilingnya dan menunduk. Oh dia kenapa? Aku berlari sekuat yang kubisa.
Anak kecil itu berlari kembali. Kupandang punggungnya. Tak terlihat satu raut pun dari wajahnya. Kalian bisa bayangkan apa yang terjadi jika sebuah kertas mengejar seorang anak kecil. Namun aku tidak diciptakan "rasa lelah". Sehingga aku sepenuhnya dapat berlari tanpa batas!
Punggung itu ambruk. Kakinya bersimpu tanah. Menangis.
Dengan iba, aku berdiri 2 meter di sebelahnya. Ia mulai melihat ke arahku. Melihat-lihat kemampuan fisikku. Dia mengambil ancang-ancang mundur dan berlari sambil menerbangkanku setelahnya. Aku terbang... bersama mimpinya
Anak kecil itu berlari kembali. Kupandang punggungnya. Tak terlihat satu raut pun dari wajahnya. Kalian bisa bayangkan apa yang terjadi jika sebuah kertas mengejar seorang anak kecil. Namun aku tidak diciptakan "rasa lelah". Sehingga aku sepenuhnya dapat berlari tanpa batas!
Punggung itu ambruk. Kakinya bersimpu tanah. Menangis.
Dengan iba, aku berdiri 2 meter di sebelahnya. Ia mulai melihat ke arahku. Melihat-lihat kemampuan fisikku. Dia mengambil ancang-ancang mundur dan berlari sambil menerbangkanku setelahnya. Aku terbang... bersama mimpinya
Tuesday, January 22, 2013
Bunga Clover untuk "Bunga" part 6
Saat Hana
sedang tak sadarkan diri, Rama, Rika, dan Taufik menjenguk Hana. Selama ini
hanya Jun yang absen menjenguk Hana. Pasti ada kejanggalan yang terjadi, pikir
mereka. Mereka bergantian berjaga malam. Sekarang saat Rama bergiliran menjaga
Hana. Ia sangat menyayangi Hana, meski Hana belum menyadari hal itu.
“Hana. Cepat sembuh ya..”
Pintu ruang inap Hana terbuka.
Tiba-tiba sesosok pemuda masuk dengan membawa buket bunga.
“Jun? Kok tumben bisa dateng?”
“Iya, lagi ngga ada kerjaan aja. Dan
gue nyempetin dateng ke sini.” ujar Jun dengan santai, “Gimana keadaannya
sekarang?”
“Sudah agak baikan.”
Jun menaruh buket bunganya ke lemari
tepat di samping Hana. Lalu ia memegang tangan Hana yang lembut. Pertama
kalinya ia memegang tangan mungil itu. Jun merasa bersalah. Ia yang membuat
Hana seperti yang sekarang ini. Jun lalu mengecup punggung tangan itu dengan
lembut dan sangat lama. Dengan lembut tangan kiri Jun mengusap dahi Hana. Wajah
Jun mendekat ke arah wajah Hana hanya sekedar untuk mengecup keningnya. Tak
lama kemudian terlihat pergerakan dari tangan Hana.
“Jun.”
Itu adalah kata pertama yang Hana
ucapkan setelah pikirannya terbangun dari masa krisis. Jun memegang tangan Hana
dengan lebih erat. Ia dan Rama tak percaya dengan apa yang terucap dari mulut
Hana sendiri.
“Apakah kau Jun?”
Perlahan mata Hana membuka. Jun
tersenyum tipis. Senyuman yang sangat dikagumi Hana kini nampak jelas terlihat.
Hana mulai sadar. Ia pun terbangun dan duduk di atas tempat tidur.
“Apa yang terjadi?” tanya Hana
seraya menatap Jun dan Rama secara bergantian.
Dengan merasa bersalah Jun
menceritakan semuanya. Termasuk unsur ketidaksengajaan perasaan dirirnya, Rama,
dan Hana. Hana memaafkan Jun dengan mudah. Karena jika ia berada di posisi Jun,
ia pasti akan memilih persahabatan daripada perasaannya sendiri. Rama pun paham
perasaan keduanya. Ia pun memilih untuk mundur dan melepaskan Hana ke tangan
Jun. Rama meninggalkan ruangan itu.
Sempat terjadi keheningan di
ruangan. Keduanya mengetahui perasaan satu sama lain. Hal ini membuat suasana
berubah menjadi canggung. Hana mencari-cari bahan omongan untuk obrolannya
dengan Jun. Tapi ia tidak menemukan topik apa-apa. Akhirnya Jun yang angkat
bicara.
“Mmm… Mengenai kondisi kardus itu,
aku mulai merapikannya.”
“Ah, sudah lama aku tak melihat
isinya.”
“Tapi aku tidak bisa memperbaiki
Bunga Clover itu,” terang Jun.
“Maaf, ya. Pasti itu gara-gara aku,
ya?”
“Sudahlah. Itu kan sudah berlalu.
Hmm.. Bagaimana kalau kita mencari bunga itu lagi?” usul Jun.
“Cari? Dimana?”
“Pokoknya kau ikut aku aja deh. Jadi
besok pagi kita keluar sebentar.”
“Oke.”
Keesokan paginya, Masih di pagi hari
buta ia meminta kepada resepsionis untuk membawa Hana jalan-jalan keluar.
Setelah mengisi surat izin membawa pasien, Jun menggendong Hana.
“Kamu aneh deh, Jun. Nyulik orang
dengan jasa gendongan begini.” sahut Hana di telinga Jun.
Jun hanya tertawa.
“Dasar ratu gembel. Sabar sedikit
dong. Kan aku juga mau ngasih kejutan gitu.”
“Wuuu… Kamu tuh ya ngga jago dalam
hal beginian, ya kan?” ditonjoknya pipi Jun dengan lembut.
“Yah ratu gembel ga cuma minus di
penampilan, hatinya juga ikutan minus. Sabar dikit kek. Ntar cepet tua lho,
ntar keburu lengser lho dari predikat ratu,” ledek Jun.
“Maksudnya apa, nih?” kali ini Hana
mencubit pipi Jun.
Aura di antara mereka kembali
seperti biasa. Bahkan lebih berwarna dibandingkan sebelumnya. Hana pun tidur
sejenak di punggung pemuda itu. Saat tertidur, Hana bermimpi, ia berada di
taman yang penuh dengan bunga. Sejauh mata memandang hanya bunga, bunga dan
bunga. Sampai akhirnya ia melihat sesosok pangeran dengan wajah yang ditutupi
oleh topeng. Mereka saling mendekat. Hana menimbang-nimbang untuk membuka
topeng itu. Lalu secercak cahaya keluar dari dalamnya.
“Udah sampe, nih. Coba lihat
sekelilingnya.”
Hana menangkap suara itu, dan
mimpinya pupus. Ia melihat di ufuk timur ada matahari yang diam-diam
menampakkan bentuknya. Sinarnya begitu lembut menyentuh wajah sang ratu. Lalu
di bawah telapak kaki Jun terhampar tanaman semanggi yang begitu hijau.
“Hana, ini adalah tempat pertama
kali kita bertemu. Waktu itu aku nemuin kamu lagi bermain di sini. Padahal
keluarga kamu sedang mencari kamu kemana-mana. Tapi hanya aku yang tau tempat
persembunyian kamu ini, karena ini tempat persembunyian aku juga.” ujar Jun
dengan begitu jelas.
“Dan kamu malah mengajakku bermain
di sini. Kamu terlihat sangat senang ketika menemukan daun semanggi berkelopak
4. Bunga Clover. Aku orang pertama yang kau perlihatkan. Lalu kita berjanji
untuk menyimpannya.” tutur Jun dengan jelas.
“Nah, sekarang sebagai gantinya aku
mencarikannya untukmu,” Jun menurunkan Hana dari gendongannya dan mencari Bunga
Clover itu. Hanya dalam waktu sebentar, ia memetik satu daun semanggi, dan
memberikannya ke telapak tangan gadis yang ia sangat sayangi itu.
“Ternyata dalam bahasa Jepang, nama
kamu dapat diartikan sebagai bunga, lho. Jadi, ini Bunga Clover untuk Bunga.”
Muka Hana memerah, “makasih Jun.”
ditatapnya Jun dengan lekat. Jun menatapnya kembali. Kali ini ia sudah
menemukan di balik tatapan itu. Ia sudah mendapatkannya. Demikian pula dengan
Jun. Wajah Jun mendekat ke arah kening Hana. Dikecupnya dahi Hana dengan
lembut. Dengan memandikan cahaya matahari pagi, tampaklah siluet mereka. Dan
juga telah mempertemukan kembali kedua insan dan juga kenangan yang tak
terkubur.
Bunga Clover untuk "Bunga" part 5
Di
antara 4 sekawan yang lainnya, Rikalah yang paling mengetahui jarak yang
merenggang antara Hana dan Jun. Seusai menemani Taufik seminar di kampus, Rika
mempercepat langkahnya kea rah rumah Hana.
“Hai,
Han! Boleh masuk?”
“Monggo,
mbak.”
Rika
ingin meluruskan kerenggangan jarak antara Jun dan Hana. Ia masuk ke dalam
kamar Hana yang terbilang ‘unik’. Seperti biasa, tanpa berbasa-basi terlebih
dahulu, Rika mengatakan dengan to the
point.
“Han,
ada yang perlu gue sampein ke elo. Lu tau kan gue pernah punya janji sama lu
tentang 1 tambahan mimpi lu itu?”
“Iya
inget. Itu tentang apa, Rik? Awas aja kalau ngomongnya ngawur,” ejek Hana.
“Yeee
dasar ratu gembel. Engga bakalan lah. Makanya dengerin orang ngomong dulu
kenapa, sih~”
“Hehehe….
Iya iya. Apa tuh, Rik?” ledek Hana yang dilanjutkan dengan menanyakannya dengan
serius.
“Lu
tau ngga pas waktu lu kecil lu pernah kecelakaan?”
“Duh,
ngga inget, Rik. Kan lu yang ngeliat langsung. Gue sih ngga inget apa-apa.”
“Gini,”
kata Rika memulai ceritanya.
“Dulu
itu, lu orangnya ngga bisa diem
banget. Paling pecicilan dibanding yang lain. Tapi ada satu cowok yang akrab
banget sama lu. Lu tau ngga dia itu
siapa?”
Hana
menggelengkan kepalanya.
“Nama
cowoknya itu Auzan Nur Hifzun, alias Jun.”
Hana
ternganga, “kok bisa??”
“Jadi,
lu dulu akrab banget sama dia. Sampe pas main pengantin-pengantinan kalian
berdua menjadi sepasang pengantinnya. Dan kalian pun sering surat-menyurat
padahal jendela kamar kalian bersebelahan. Waktu kalian nyari bunga Clover juga
gitu. Kalian nyari bareng-bareng. Udah gitu nyimpen bunganya di kotak besi.
Pokoknya kalian bener-bener aneh, deh. Dan kalian pun berniat membuat harta
karun bersama, dan bunga itu salah satu harta karunnya.”
Hana
menelan ludahnya. Setengah tidak percaya cerita dari Rika.
“Kemudian
peristiwa yang ngga diinginkan terjadi,” lanjut Rika dengan nada suara yang
lebih tegang, “lu jatuh dari atas pohon, dan lu koma selama 2 tahun. Ini juga
membuat lu kehilangan semua ingatan lu. Lu ngga inget nama lu sendiri, Jun,
gue, dan bahkan keluarga lu sendiri. Dan akhirnya ketika Jun pindah keluar
kota, nyokap lu ngasih Jun harta karun kalian berdua. Dan ada kemungkinan Jun
masih menyimpan harta karun itu.”
Cerita
dari Rika mengiang-ngiang di benaknya. Sudah 2 tahun semenjak kembali
bertemunya ia dengan Jun, baru kali ini ia mengetahui semua rahasianya. Dan ia
merasa bersalah tak menanyakannya pada Jun. Dengan cepat Hana menergap jaketnya
dan pergi untuk menemui Jun. Rika memanggil-manggil namanya di belakang, tapi
ia tak memerdulikannya.
Saat
berjumpa dengan Jun, Jun sedikit memalingkan wajahnya.
“Aku mau masuk ke kamar kamu
sekarang.”
Dengan spontan Jun menoleh ke arah
Hana.
“Kamu.. mau ngapain?”
Belum sempat Jun selesai
bertanya-tanya, Hana sudah memasuki rumah Jun.
“Hey, kamu mau ngapain, Han? Hana
tunggu dulu. Hana!”
Namun kaki Hana tetap melangkahkan
ke arah kamar Jun. Setelah dibukanya pintu, ia mulai mencari-cari sebuah kotak
yang diperkirakan bisa memuat surat-surat, bunga Clover, dan bukti-bukti
lainnya.
“Kamu ngapain, Han?! Semua itu
barang-barangku!” ucapan Jun mulai menggertak
Hana pun bangkit berdiri. Saat
membalikkan badannya, kedua tangannya memegang sesuatu yang besar.
“Kecuali barang-barang yang ada di
sini kan?”
Jun pun mengelak. Ia terkejut saat
Hana menemukan barang-barangnya kembali. Ia merasa ia mendapatkan batin. Lalu
ia terdiam. Ia kini ingat benar kejadian
masa lalunya. Ingat teringat masa kecilnya dulu dengan Hana, Termasuk peristiwa
buruk yang dialami Hana.
“Kenapa kamu memalingkan wajah kamu?
Apa yang menjadi penyebab kamu melakukan itu? Dan mengapa kamu masih menyimpan
ini semua Jun? Kenapa?” nada suara Hana
terisak.
Jun tak menjawab. Ia rasa sudah
waktunya ia mengakhirinya. Ia akan jujur kepada Hana mulai detik itu.
“Terus terang aku ingin membuang
semua barang itu,” jawab Jun seraya menatap mata Hana dengan pandangan kosong,
namun sangat mengiris hati.
“Aku memang akrab denganmu. Aku
sangat senang ketika berada di dekat kamu. Tapi itu dulu, sebelum kamu
mengalami kecelakaan dan akhirnya membuat kamu lupa semuanya termasuk aku dan
kenangan bersamaku. Dan kamu yang sekarang tidak ingat dengan semua kebahagiaan
yang aku dapat dahulu. Kamu sangat berbeda.” ujar Jun dengan sangat jelas dan
sekaligus sangat menyakitkan.
Tanpa terasa air mata menjalari pipi
Hana. Ia tak menyangka kata-kata itu terucap begitu saja dari mulut Jun
sendiri. Dan kini perasaannya pedih. Tetesan-tetesan itu semakin deras. Dengan
penuh keberanian ia bertanya lagi.
“Lantas, kenapa kamu tidak
mengungkapkannya? Kenapa kamu tidak menjelaskan semua masa lalu? Dengan begitu
kita bisa membangun kembali kebahagiaan itu.”
“Kurasa masa lalu adalah masa lalu.
Kita semua tumbuh dan berkembang. Dan kurasa kebahagiaan kita hanyalah kenangan
belaka,” kata-kata itu sangat menusuk perasaan Hana, “kamu lebih cocok
bersanding dengan Rama.”
“Rama? Apa semua ini karena Rama?”
“Tidak. Karena memang benar begitu
kenyataannya. Kamu lebih senang jika berada di dekatnya.”
“Apakah....,” kepala Hana tertunduk
saat mulai menanyakannya, “apakah kamu lebih menyukai aku yang dahulu
dibandingkan dengan yang sekarang.”
“Perlukah aku menjelaskannya
kembali?” jawab Jun dengan tatapan yang lebih menakutkan dari biasanya.
Hana memilih untuk pergi dari tempat
itu. Dibantingnya kardus itu dan ia berlari menuju rumahnya. Bunga Clover yang
sudah mengering itu hancur tak terbentuk lagi. Seperti halnya bunga Clover itu,
hati Hana remuk berkeping-keping. Dan ketika sampai di dalam rumah, jantungnya
terasa sakit. Hana pun terbaring tak sadarkan diri.
Bunga Clover untuk "Bunga" part 4
“Eh,
kita karaokean gimana? Sampe larut lah... mumpung besok kita libur, nih. Setuju?”
“Boleh
boleh, tuh. Yuk?” Hana mengiyakan sambil mengajukan konfirmasi ke Jun.
“Challenge accepted!” jawab Jun dengan
mantab.
Malam
itu mereka merasakan betapa hebatnya dunia ciptaan Tuhan. Sebenarnya ada
sesuatu yang ingin Jun tunjukkan ke Hana. Tapi hal itu ia urungkan sampai ia
mendapatkan bukti yang lebih kuat lagi. Baginya, malam ini sudah cukup
membuatnya mendebarkan, berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Dan ia akan
selalu ingat kejadian malam ini, dan juga pandangan ia lihat pada malam ini.
Cek
kesehatan setiap minggu siang adalah jadwal rutin Hana sekarang. Menjelang
memasuki universitas ia rajin pergi ke puskesmas terdekat untuk sekedar
memeriksa kesehatannya. Terakhir kali ia mendapatkan kabar dari dokter
pribadinya bahwa ia menderita penyakit jantung koroner. Sedikit shock memang
mendengarkannya, tapi ia yakin ia bisa mengatasinya. Perjalanan menuju
puskesmas tak begitu jauh. Yakni dengan menempuh kurang lebih 150 meter Hana
sudah bisa melakukan pemeriksaan. Sesampainya, Hana mengisi daftar tamu di
resepsionis dan melesat ke ruangan dokter pribadinya itu.
“Bagaimana
keadaannya sekarang, dok?” Tanya Hana dengan hati-hati.
“Sudah
cukup membaik dibandingkan 2 minggu sebelumnya. Tapi perlu diingat ya Hana, kamu
sekarang sudah menjadi mahasiswi, dan kamu harus mengurangi kegiatan-kegiatan
khususnya kegiatan di malam hari. Dan jangan lupa sering minum vitamin sehari
sekali serta biasakan berolahraga pada pagi hari.”
Hana
pun pamit dari hadapan dokter. Ia menyadari benar kondisi fisiknya sekarang. Ia
sudah lemah. Tak sekuat dahulu. Rahasia mengenai penyakitnya hanya diketahui
oleh Rika. Bahkan ia tidak menceritakannya kepada keluarganya sendiri. Cukup
Rika saja yang tahu. Ia pun pergi ke pasar guna membeli jeruk, wortel, dan
vitamin-vitamin sesuai anjuran dokternya.
Matahari
masuk melalui sela-sela gordyn kamar
Taufik. Kamarnya cukup berantakan. Jun-lah yang bangun pertama kali dan mulai
membenahi sisa-sisa pesta kemarin malam. Kebangunannya disusul oleh Taufik.
Lalu kemudian Rama.
“Eh,
ternyata udah ada yang lebih rajin daripada gue ya. Sebentar gue ambil serokan
sama sapu,” Taufik berjalan keluar kamar.
Rama
membantu Jun membuang sampah-sampah yang berserakan.
“Lu
tertarik ya sama Hana?” tanya Rama pada akhirnya. Hal ini membuat Jun
kehilangan kata-kata.
“Maksudnya?”
Jun membalikkan pertanyaan.
“Udah
gue tau kok lu lagi suka kan sama dia? Ngaku aja deh.” kata Rama dengan nada
sedikit serius.
Jun
tidak langsung menjawabnya. Ia menimbang-nimbang maksud pertanyaan itu lalu
mulai menjawab.
“Engga,”
jawab Jun pada akhirnya. Mendengar jawaban Jun, Rama menatap Jun lekat-lekat.
“Asal
lu tau aja Jun, gue lagi jatuh cinta sama…….sama Hana,” Rama tak kalah
berargumen.
Jun
tercengang, ”jadi lu suka sama dia?”
“Iya,”
jawab Rama dengan yakin.
“Tapi
gue ga suka ketika melihat lu deket-deket sama dia,” lanjut Rama.
Jun
menundukkan kepala. Menyesal atas jawabannya. Kini ia tak tahu harus berbuat
apa. Ia jatuh cinta kepada Hana, tapi ia juga tidak tega melihat kawannya terluka
karenanya. Posisinya sedang terjepit. Ia bingung antara ingin memiliki orang ia
cintai atau melihat sahabatnya bergandengan dengan orang yang dicintainya.
Kalau saja ada keajaiban, ia tak ingin berada di sini. Lebih baik ia meninggal
daripada harus memilih pilihan yang tak bisa ia pilih.
“Jun?
Are you okay?” tanya Rama.
“Yeah, I’m fine. Hanya lupa sesuatu aja.
Tadi lu bilang lu suka sama dia, ya? Wah, gue dukung banget deh.”
“Lu
yakin gue sama dia bakalan cocok?”
“Sure! Yakin seratus persen deh!”
“Oke,
do’ain gue ya.”
“Yup!”
Kata-kata
itu keluar dengan nada yang berat. Kata-kata yang menyebabkan terdapat lubang
di hatinya. Ia merasa paling bodoh dan bersalah kepada dirinya sendiri. Namun,
ia sudah terlanjur menyetujui hubungan Rama dengan Hana. Ia tak bisa menarik
kembali ucapannya maupun orang yang dicintainya. Tuhan, jika ada satu kekuatan,
mungkin dalam sekejap perasaan itu akan ia hapus. Tapi, ternyata Tuhan
berkehendak lain.
Keputusannya
itu malah membuat Jun semakin sakit hati. Mereka nampak akrab dan dijuluki
Romeo-Juliet di kampus. Jun pun sering menghindar dari hadapan mereka. Meski ia
tahu ia salah, tapi ia pikir itulah jalan satu-satunya agar membuat ia akan
lupa terhadap perasaanya. But it is hard
to make it fades away. Dan dengan cara menghindarlah Jun akhirnya perlahan
melepas segenap rasa cinta itu.
Subscribe to:
Posts (Atom)